Sunday, April 9, 2017

Menuju Allah

Kualalumpur

Menunggu di sini, dini hari. Transit perjalanan menuju rumah Allah, Makkah Al Mukarramah. Dulu sering berseloroh dengan istri, bahwa tamu Allah itu haruslah orang yang dapat panggilan, tidak ada hubungannya dengan punya banyak uang atau tidak. Maka sungguh kami merasa diberikan banyak nikmat oleh Allah SWT, diperkenankan menjadi tamu-Nya meski banyak kekurangan...

Sempat grasak grusuk di Soekarno-Hatta International Airport tadi sore, tenyata saya lupa bawa kartu kuning vaksin miningitis. Blunder. Begitulah cara Allah mungkin mengingatkan saya bahwa untuk menjadi tamu-Nya harus dengan perhatian dan fokus yang lebih. Bayangkan, pagi-pagi sebelum keberangkatan saya masih sibuk menyelesaikan tugas kuliah yang deadline pekan ini. Semuanya serba last minute. Walhasil, dokumen penting terlupakan. Astagfirullah...

Tapi Alhamdulillah, bi idznillah, di bagian imigrasi bandara Soetta masih bisa lolos tanpa kartu kuning. Kali ini, kartu anggota DPRD sedikit membantu 'melunakkan hati' petugas imigrasi.. hehehe... Alhamdulillah, wasyukrillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah. Semoga perjalanan ini engkau mudahkan Ya Rabb... Labbaaikallahumma labbaik... kami penuhi panggilan-Mu Ya Allah... Bismillahi umratan...

Selengkapnya…

Friday, September 16, 2011

ERA HORIZONTAL

Tiba-tiba saja, masyarakat Indonesia mengenal seorang Briptu Norman, anggota Brimob Polda Gorontalo yang membawakan lipsync lagu Chaiya-chaiya miliki Sarukh Khan. Media cetak dan Televisi terus menayangkannya selama beberapa pekan sejak video uniknya muncul di YouTube. Briptu Norman pun mendadak tenar bak artis dan diundang tampil dalam berbagai event entertianmen. Bahkan terakhir, Briptu Norman telah masuk dapur rekaman.

Fenomena ini bukan yang pertama kali, sebelumnya ada fenomena Shinta dan Jojo dengan lipsync Keong Racun, dan juga ada pelantun Andai Aku Gayus Tambunan. Di Amerika, fenomena yang sama telah lebih dulu terjadi. Lady Gaga dan Justin Beiber menjadi idola remaja Amerika setelah video mereka ditayangkan oleh youTube. Fenomena apakah ini?


Dulu, untuk menjadi seorang artis yang terkenal begitu panjang prosesnya. Anda harus punya agen, direkomendasikan oleh pencari bakat, diperkenalkan dengan produser, dan mungkin dengan sedikit biaya tambahan bisa masuk dapur rekaman. Setelah album selesai dilempar ke pasar, jika mendapatkan sambutan anda akan terkenal. Tapi jika tidak laku, mohon maaf, anda gagal.

Atau, ada cara yang sedikit lebih murah tapi kompetitif. Anda bisa mengikuti audisi-audisi pencari bakat yang dilaksanakan oleh stasiun televisi. Hanya saja, anda harus bersaing dengan ribuan, bahkan puluhan ribu peminat lainnya. Jika anda tidak istimewa, mohon maaf, anda gagal.

Inilah contoh yang cukup mudah untuk menjelaskan perbedaan Era Vertikal dan Era Horizontal. Jalan konvensional menjadi artis melalui pencari bakat atau audisi, adalah contoh era vertikal. Kemampuan anda dinilai oleh produser atau pun juri. Kesuksesan anda ditentukan oleh sistem. Ada hirearki yang cukup banyak untuk anda harus lalui. Lalu, anda harus “pandai-pandai” dan “tahu diri” agar bisa melalui seluruh hirearki itu dengan baik.

Sementara jalan yang dilalui Briptu Norman, Shinta-Jojo, atau pun Lady Gaga dan Justin Beiber, adalah contoh era horizontal. Kemampuan mereka dinilai oleh individu-individu yang membentuk networking. Setiap individu itu salaing berbagi (share) informasi, bertukar pendapat, memberikan nilai dan menentukan sikap. Tiba-tiba mereka menjadi fenomenal, barulah setelah itu media-media broadcasting bekerja. Mempublikasikan tentang popularitas mereka di dunia jejaring sosial.

Faktanya, struktur masarakat kita perlahan tapi pasti sedang bergeser dari vertikal menjadi horizontal. Setiap individu mampu menggantikan peran-peran wartawan yang meliput suatu peristiwa. Bahkan setiap individu mampu menggantikan peran media massa. Jauh sebelum media massa mempublish suatu peristiwa, publik telah terlebih dahulu mengetahui informasinya dari jejaring mereka yang horizontal. Berawal dari satu orang, lalu masuk ke dalam komunitas-komunitas, dan akhirnya merambah ke seluruh jejaring dunia maya. Dalam banyak kasus, bahkan media massa baru menyadari suatu peristiwa itu penting setelah menjadi trending topic di dunia maya.

Inilah era horizontal. Sebuah lingkungan strategis yang kita hadapi saat ini. Hermawan Kartajaya dalam bukunya Connect!, memaparkan 4 perubahan mendasar di era ini:

Pertama, perubahan kekuatan teknologi dari Brodcasting (one to many) menjadi Networking (many to many). Pergeseran ini terlihat jelas pada Pemilu AS tahun 2008. Barack Obama, adalah salah satu pemimpin politik terbesar dalam sejarah yang lahir dari rahim era horizontal. Ketika lawan politiknya John Mc Cain hadir dengan platform vertikal, patriotisme, Obama hadir dengan platform horizontal, hope and change. Mc Cain mensosialisaikan platformnya melalui media massa (broadcasting) yang vertikal, sementara Obama mensosialisasikan platformnya melalui jejaring sosial (networking) yang horizontal.

Profil Mc Cain dan ide-idenya hanya disaksikan oleh Bangsa Amerika, sementara profil Obama dan ide-idenya disaksikan oleh warga dunia. Maka platform obama ini tidak hanya menginspirasi orang Amerika, tapi juga warga dunia. Sala satu riset media menjelang Pemilu AS tahun 2008 merilis, bahwa 70% pendukung Obama justru bukan orang Amerika. Obama, adalah contoh sukses politik horizontal yang pernah ada.

Kedua, perubahan kekuatan politik dari ideologi ke persona. Publik tidak lagi terlalu peduli sesorang politisi atau partai politiknya berideologi apa, tetapi apa yang telah ia lakukan untuk rakyat. Seperti kata Daeng Xiao Ping, “tidak penting apakah kucingnya berwarna hitam atau putih,yang penting bisa menangkap tikus”. Pada dasarnya publik tidak terlalu perduli diskursus yang terjadi dalam pengambilan kebijakan menggunakan perspektif apa, tetapi yang penting adalah bisakah kebijakan itu membantu kehidupan mereka.

Ketiga, perubahan kekuatan ekonomi, dari G7 ke G20. Wajah dunia sudah betul-betul berubah. Amerika dan negera-negara G7 lainnya saat ini sedang menghadapi krisis keuangan yang luar biasa. Sikap mereka yang selama ini menjadi penentu kebijakan moneter dunia (vertikal) telah tergeser secara perlahan oleh negara-negara berkembang yang lebih horizontal dalam interaksi internasionalnya.

Keempat, perubahan kekuatan sosial budaya, dari belief ke humanity. Di era horizontal ini, orang tidak lagi memilah-memilah pertemanan karena perbedaan agama dan keyakinan. Bahasa mereka adalah bahasa kemanusiaan. Tidak penting apa agama penduduk Jepang yang diterjang bencana tsunami, mereka tetap menunjukkan solidaritas dengan berbagai cara. Tidak penting apa keyakinan rakyat mesir yang menuntut presidennya mundur, atas nama kemanusiaan mereka ikut mendukungnya.

Lalu, bagaimana kita menghadapinya?

Seharusnya, berbagai peristiwa yang menimpa PKS beberapa waktu terakhir menjadi alarm penting untuk membangunkan kesadaran kita, bahwa model vertikal yang selama ini kita anut (struktur dan hirearki kaderisasi) tidak cukup lagi untuk membesarkan organisasi dan merebut kepemimpinan nasional. Serangan black campaign dan rekayasa opini melalui media broadcasting jelas tidak mampu kita hadapi. Penyebabnya sederhana, karena kita tidak memiliki media broadcasting seperti yang dimiliki para kompetitor.

Oleh karena itu, harus ada perubahan mindset dalam organisasi dan kader kita. Selama ini kita merasa imunisasi yang diberikan oleh struktur dan hirearki kaderisasi sudah cukup untuk membuat kita defensif terhadap serangan-serangan opini lawan. Padahal, secara tidak sadar citra organisasi terus menurun dan terkerdilkan di mata publik. Penyebannya sederhana, kita tidak menjadi bagian jejaring publik. Kita membentuk jejaring kader, bukan jejaring sosial. Karena itu, ketika serangan-serangan opini datang, kita hanya mampu menenangkan jejaring internal kita. Sementara di jejaring yang lebih luas, citra organisasi semakin rusak.

Kita juga perlu memahami, bahwa era horizontal itu bukan hanya terjadi di dunia online. Sesungguhnya mereka yang hidup di dunia online adalah orang yang sama di dunia offline. Karena itu, pendangan, persepsi dan sikap mereka di dunia online akan sama dengan yang mereka tampilkan di dunia offline. Mereka akan mengartikulasikan persepsi mereka itu dalam kehidupan nyata sehari-hari melalui dukungan atau pun penolakan. Mereka akan berkelompok dan membentuk komunitas. Itulah sebabnya, tidak cukup bagi kita untuk menjadi bagian dari komunitas netizn an sich, tetapi menjadi bagian dari komunitas-komunitas sosial dalam kehidupan yang sesungguhnya.Wallahu ‘Alam.


Selengkapnya…

LINGKUNGAN STRATEGIS

Sun Tzu, dalam kitab fenomenalnya The Art of War menuliskan empat postulat tentang rahasia kemenangan dalam pertempuran:

Pertama, jika engkau mengetahui kekuatanmu dan mengetahui kekuatan musuhmu, maka seratus kali bertempur , saratus kali pula kau memenangkannya.

Kedua, jika engkau mengetahui kekuatanmu tapi tidak mengetahui kekuatan musuhmu, maka seratus kali bertempur, lima puluh kali kau akan menang dan lima puluh kali kau akan kalah.

Ketiga, jika engkau tidak mengetahui kekuatanmu tapi mengetahui kekuatan musuhmu, maka seratus kali bertempur, lima puluh kali kau akan kalh dan lima puluh kali kau akan menang.

Keempat, jika engkau tidak mengetahui kekuatanmu dan tidak mengetahui kekuatan musuhmu, maka seratus kali bertempur , saratus kali pula kau akan kalah.



Postulat ini berbicara tentang dua faktor kemenangan: pengetahuan akan kekuatan diri dan pengetahuan akan kekuatan musuh. Dalam kontek organisasi, kesuksesan organisasi sangat ditentukan oleh pengetahuan akan semberdaya organisasi dan pengetahuan sumberdaya kompetitor (Competitor Intelligence). Tetapi, dalam postulat ini Sun Tzu tidak menuliskan, bagaimana jika kedua pihak saling mengetahui kekuatan masing-masing dengan sama baiknya. Maka faktor kemenangan ketiga dalam pertempuranlah yang menjadi pembeda, yaitu mengetahui medan perangnya.

Saifuddin Qutuz, pahlawan Islam sang penakluk pasukan Tartar, telah memangkan salah satu pertempuran paling prestisius dalam sejarah perdaban Islam, pertempuran ‘Ain Jalut. Dia mengetahui kekuatan pasukannya dengan baik. Dia juga mengetahui kekuatan pasukan Tartar dibawah komando Hulaghu Khan dengan baik. Begitu pula sebaliknya. Hulaghu Mengetahui kekuatannya dengan baik, dan mengetahui kekuatan Qutuz dengan baik pula. Tetapi Qutuz mengetahui medan perangnya dengan baik, sementara Hulaghu tidak.

Maka demikianlah sejarah menuliskan, di lembah ‘Ain Jalut, pasukan Qutuz menghancurkan pasukan Tartar dengan kemenangan yang meyakinkan. Kemenangan yang dengannya sejarah Islam yang kelam berbalik arah menjadi peradaban raksasa yang bangkit kembali.

Demikian pula dengan organisasi kita. Mengetahui kekuatan diri dan kekuatan musuh saja tidak cukup, tetapi faktor yang sangat menentukan adalah mengetahui lingkungan strategis dakwah dengan baik. Oleh karena itu tidak cukup rasanya memenangkan dakwah ini hanya dengan meng- copy paste berbagai program dari pusat kemudian mengorganisasikan sumberdaya dalam menjalankannya. Sebab boleh jadi, desain program itu perlu disesuaikan dengan lingkungan strategis dakwah kita disini.

Mengetahui kekuatan sendiri dan mengetahui kekuatan kompetitor dalam iklim kompetisi politik yang ketat seperti sekarang ini memang sangatlah penting. Oleh karena itu hampir setiap partai rela mengelaurkan dana yang cukup besar untuk melakukan survey politik demi mengetahui peta kekuatan sendiri dan kompetitornya. Bahkan melalui survey kita dapat menegatahui kelebihan dan kekurangan setiap kompetitor sehingga menentukan penilaian responden yang mewakili suara publik.

Selain survey, pemahaman kekuatan diri kita sendiri seharusnya dapat dilakukan dengan lebih detail dan menyeluruh. Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk memiliki sistem manajemen data yang akurat dan komprehensif. Jika ingin menang, sudah saatnya kita meninggalkan tradisi lama yang mengabaikan data dan memulai tradisi baru dengan mendisiplinkan diri kita menciptakan bank data yang kredibel dan berdaya guna.

Kita juga perlu mengetahui kekuatan kompetitor (competitor intelligence) melalui berbagai cara. Selain survey, kita dapat mengintip strategi kompetitor melalui media massa. Program aksi dan kebijakan-kebijakan kompetitor yang dipublish oleh media massa merupakan out put dari sebuah grand desain strategi yang rahasia. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki tim analisis media yang bisa memberikan gambaran peta politik di media. Interaksi kita dengan struktur dan kader kompetitor di teritori kerja (kota, kecamatan dan kelurahan) dapat juga menjadi sumber informasi kekuatan dan strategi mereka.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah mengenal lingkungan strategis dakwah kita. Seperti yang telah diuraikan diatas, lingkungan strategis inilah medan perangnya. Maka kita perlu secara serius mengkaji dan memahami realitas sosial masyarakat kita. Baik struktur sosialnya, budayanya, ekonominya dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi akibat pergeseran tata nilai dan budaya oleh proses modernisasi. Tentu saja untuk mengenal dengan baik lingkungan strategis kita tidak cukup dengan melihat dari jauh, melainkan menyelami lingkungan dakwah kita secara langsung, berinteraksi dengan masyarakat dan menjadi bagian penting dari masyarakat itu sendiri.

Dengan cara inilah kita dapat benar-benar menerapakan apa yang oleh para qiyadah disebut sebagai perspektif Outside-In, atau dalam istilah bisnisnya Outward looking. Dimana program kita adalah program yang kompatibel dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki daya ungkit elektabilitas yang tinggi dalam pemilu. Wallahu ‘Alam.


Selengkapnya…

VISI

Visi adalah impian, cita-cita dan obsesi. Suatu pandangan jauh ke depan tentang organisasi atau impian yang ingin dicapai. Visi ingin menjawab pertanyaan, sebenarnya kita hendak kemana, menjadi apa, atau hasil seperti apa yang kita inginkan di masa depan. Visilah yang memberikan arah bagi organisasi untuk bergerak maju. Dan visilah yang menginspirasi setiap orang dalam organisasi untuk bekerja dengan rasa bangga, teguh, ulet dan pantang menyerah.

Begitu vitalnya visi ini, sehingga setiap orang di dalam organisasi harus memahami dan menjiwainya dengan baik. Ibarat membangun sebuah gedung, seluruh pekerja harus memahami hasil akhirnya. Sebab jika tidak, boleh jadi mereka bekerja bersama namun hasilnya akhirnya berbeda-beda. Itulah sebabnya sebuah organisasi harusmengkomunikasikan visi organisainya kepada seluruh stakeholder organisasi , agar visi itu menjadi jiwa sekaligus arah dalam semua proses organisasi yang mereka lakukan.


Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mengkomunikasikan visi organisasi kepada para pengurus dan seluruh kader. Agar ia menjadi jiwa sekaligus arah bagi semua aktivitas dakwah yang kita lakukan saat ini. Dan proses (mengkomunikasikan) itu sebaiknya dilakuan secara sistemik, Pengurus Wilayah kepada Pengurus Daerah, Pengurus Daerah kepada Pengurus Cabang, Pengurus Cabang kepada Pengurus Ranting, Ketua Bidang kepada Staf Bidang, dan Elemen Kaderisasi kepada seluruh kader. Hal ini untuk memastikan agar visi organisasi benar-benar sampai ke stelsel/ unit-unit kerja terkecil organisasi.

Meskipun pemaparan tertulis tentang penjelasan visi ini belum pernah sampai pada level struktur kita, mudah-mudahan tidak salah jika saya mencoba berijtihad menyampaikan interpretasi saya terhadap visi organisasi yang bersumber dari penjelasan lisan dan informal para qiyadah yang saya kenal selama ini.

Visi organisasi kita:

“Menjadi Partai Dakwah Yang Kokoh Dan Transformatif untuk Melayani Bangsa”

Saya memahami ada tiga elemen penting dari visi ini: identity, mission dan purpose.

Pertama, visi ini menjelaskan tentang identitas (identity) dan jatidiri organisasi kita, “Partai Dakwah”. Identitas ini menjelaskan tentang differensiasi dan positioning kita dengan organisasi politik yang lain. Penegasan identitas ini menjelaskan mainstream gerakan kita adalah gerakan dakwah, sehingga manhaj/sistem serta nilai yang menjiwai kesuluruhan aktivitasnya adalah manhaj dan nilai-nilai dakwah, bukan yang lain. Maka segala bentuk acuan dan kerangka kerja dalam organisasi ini harus bersumber dari nilai-nilai Islam yang orisinil dan sejarah panjang gerakan dakwah para Nabi dan salafush shaleh.

Identitas ini juga menjelaskan tentang siapa kita. Nahnu du’at qobla kulli syai’, kita adalah para da’i sebelum menjadi yang lain. Kita adalah para penyeru yang mewarisi tugas dakwah para Nabi. Sehingga dalam posisi apa pun kita, pekerjaan utama kita adalah ta’muruna bil ma’ruf wa tanhawna ‘anil munkar. Para du’atlah yang mendrive organisasi ini menuju tujuannya. Dan kernanya, kita seharusnya memiliki standar nilai-nilai moral dan etika yang lebih tinggi dari orang kebanyakan. Sebab kita adalah personifikasi dari apa yang kita serukan. Kita adalah qudwah bagi ummat dan bangsa kita.

Kedua, visi ini menjelaskan tentang substansi misi (mission) organisasi kita, “Kokoh dan Transformatif”. Sebuah penegasan tentang prasyarat bagi kesuksesan kita yaitu dengan menciptkan organisasi yang “kokoh” dan “transformatif”.

Kokoh, berarti organisasi kita harus kuat secara internal dan kuat pula secara eksternal. Secara internal organisasi ini harus dibangun oleh sumber daya manusia (kader) yang memadai, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ibarat pohon, kader inilah akar-akarnya. Daya tahan utamanya ditentukan oleh kekokohan internal kader, baik maknawiyah, fikriyah mau pun jasadiyahnya.

Kokoh secara internal juga berarti struktur yang solid. Ibarat pohon, strktur organisasi inilah batang, cabang dan rantingnya. Semakin kokoh struktur, maka akan semakin banyak manfaat (buah) yang dapat dilahirkan oleh organsiasi ini. Oleh karena itu, struktur organisasi kita perlu dikelola secara profesional. Perlu manajemen yang rapih dan kepemimpinan yang kuat dalam mengelolanya. Struktur organisasi kita juga harus terbangun hingga ke pelosok, agar dapat menebar manfaat seluas-luasnya.

Kokoh secara eksternal adalah buah dari kekokohan internal, yaitu kepercayaan (trust). Ibarat pohon, buah yang dihasilkan oleh kader dan struktur yang kokoh tadi telah memberikan manfaat yang nyata bagi ummat dan bangsa. Sehingga eksistensi organisasi kita sudah menjadi kebutuhan bagi ummat dan bangsa kita. Organisasi kita tidak lagi mudah digoyangkan oleh anasir perusak mana pun, selama kita memiliki akar yang kokoh, batang hingga ranting yang kuat serta menebar manfaat seluas-luasnya.

Transformatif, sebuah kata yang mengandung makna perubahan. Artinya, kehadiran organisasi kita sesungguhnya membawa misi perubahan (transformasi). Misi yang lahir dari kesadaran kita bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Juga sebuah pesan kepada ummat, bahwa kita juga sedang gelisah sebagaimana mereka gelisah melihat carut marutnya bangsa ini. Tetapi harus ada anak bangsa yang tampil dan tegak berdiri untuk menggelorakan semangat perubahan, memimpin ummat untuk bangkit dari keterpurukan, dan mengeluarkan bangsa ini dari kubangan ketidakpastian. Dan itu adalah kita!

Oleh karena itulah, kita sebagai agen of change harus memiliki ide tentang perubahan bangsa ini. Harus memiliki konsespi yang integral dan komprehensif untuk menjawab semua tantangan dan problematika bangsa ini. Kita harus memiliki narasi tentang perubahan yang mampu menginspirasi bangsa kita untuk benar-benar berubah dan mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Karenanya, setiap kader dan pengurus sejatinya memahami ide-ide transformatif organisasi kita yang telah tertuang dalam buku Platform Pembangunan Partai Keadilan Sejahtera.

Selain ide tentang perubahan, transformatif juga mengandung makna tentang semangat pembelajaran dalam organisasi kita. Kita menyadari, bahwa lingkungan strategis kita senantiasa berubah. Oleh karena itu organisasi ini harus senantiasa dinamis, tidak stagnan. Organisasi kita ini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia yang makin canggih serta perubahan-perubahn yang terjadi begitu cepat. Maka mental model yang dikembangkan dalam organisasi kita adalah mental model pembelajar. Senantiasa melakukan inovasi dan perbaikan-perbaikan berkelanjutan (continues improovement). Inilah yang kita sebut dengan organisasi pembelajar.

Ketiga, visi ini menjelaskan tentang tujuan (purpose) kita, “Melayani Bangsa”. Saya tidak melihat makna lain dari kalimat ini kecuali makna tentang kepemimpinan. Melayani bangsa adalah bahasa paling substantif dari kepemimpinan nasional. Inilah tujuan mulia yang menggerakkan kita dan organisasi ini. Sebuah obsesi yang lahir
dari kesadaran akan hakikat penciptaan kita, khalifatun fil ardl.

Kita meyakini bahwa negara adalah sarana untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dan kehendak-kehendak ilahi di muka bumi. Maka wajib hukumnya bagi kita untuk menegakkan sebuah pemerintahan yang berpijak pada nilai-nilai luhur Islam dan membawa misi dakwah kepada seluruh ummat manusia. Meskipun pada saat yang sama kita juga menyadari bahwa tugas mulia menegakkan pemerintahan yang berdiri diatas landasan ideologis ini harus ditempuh dengan cara-cara yang konstitusional.

Itulah kira-kira yang saya fahami dari visi organisasi kita yang menjelaskan tentang tiga hal: identity, mission dan purpose. Hanya dengan pemahaman yang baik akan substansinya, visi ini dapat menjadi sumber inspirasi, penunjuk arah, sekaligus pembangkit elan vital kita dalam berjuang. Mudah-mudahan dengan catatan yang sederhana dan penuh kekurangan ini, dapat mengisi sedikit ruang-ruang kosong dari mafahim kita akan visi organisasi dakwah kita. Wallahu ‘Alam.

Selengkapnya…

TANTANGAN

Jika kita mengkaji bagaimana sejarah peradaban manusia terus berubah, maka sesungguhnya kita akan menemukan satu kata yang menjadi kunci pemicu keseluruhan gerak perubahan peradaban manusia itu, yakni TANTANGAN. Ya, tantanganlah yang mendorong masyarakat manusia untuk berubah dan berevolusi. Menciptakan peradaban yang belum pernah dibayangkan oleh manusia sebelumnya.

Perhatikanlah bagaimana manusia purba yang awalnya hidup nomaden dan berkelompok kemudian memutuskan untuk menetap dan bercocok tanam. Tantangan hadir dari internal mereka, dimana jumlah populasinya mulai besar dan sangat merepotkan ketika harus bermigrasi. Perubahan lingkungan alam juga memaksa mereka untuk tidak lagi bergantung pada perubahan musim, tetapi menciptakan sendiri sumber-sumber makanan melalui bercocok tanam. Maka lahirlah sebuah kebudayaan baru yang menjadi tonggak dimulainya era sejarah yang baru.


Begitupun kita dan organisasi dakwah kita, terus berubah. Setidaknya yang kasat mata adalah perubahan strategi dan struktur organisasi. Dari partai tertutup dan ekslusif menjadi partai terbuka yang inklusif. Dari kinerja charity menjadi kinerja empowering. Dari pencitraan politik melalui media menjadi kontribusi politik melalui kinerja. Dari struktur organisasi berbasis tugas menjadi struktur organisasi berbasis segmen. Dan berbagai perubahan-perubahan strategis lainnya.

Setidaknya ada dua tantangan yang membuat kita harus berubah. Pertama adalah tantangan kapasitas. Ini adalah tantangan yang hadir sebagai konsekuensi pertumbuhan mihwar dakwah, dari mihwar muassai menuju mihwar daulah. Kapasitas kepemimpinan kita akan dipertanyakan. Sebab kita akan mengelola sebuah negara, bukan hanya sebuah partai politik. Kita harus memiliki kapasitas untuk memimpin 230 juta rakyat Indonesia, yang terdiri dari ribuan suku dan budaya, beragam agama serta etnis, mengelola wilayah teritori ketiga terbesar di dunia, mengadapi keberagaman dan pluralitas, dan membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah kita mampu memimpin Indonesia? Dan kalau pun kita mampu, apakah rakyat Indonesia percaya bahwa kita mampu memimpin mereka? Tentu saja kepercayaan rakyat itu tidak lahir sertamerta hanya dengan kepercayaan diri kita mengatakan “Ya!”. Tetapi kepercayaan itu harus dibangun melalui interaksi yang panjang dengan mereka. Rakyat harus melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa “ya!”, memang kita memiliki kapasitas untuk memimpin mereka.

Tantangan kedua adalah perubahan lingkungan strategis. Inilah era Web 2.0, dimana setiap orang dimuka bumi saling terkoneksi. Koneksi antar individu ini melahirkan sebuah jejaring raksasa yang lebih besar dan lebih kuat dari institusi negara. Itulah yang terjadi di Timur Tengah tahun ini, revolusi jejaring sosial. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah segera mendapatkan respon publik hanya dalam hitungan detik dan dalam jumlah yang massif. Setiap individu bebas menyatakan pendapatnya, sikapnya dan perasaannya kepada siapa saja dan dimana saja. Bahkan pendapat individu ini dapat saja menjadi pendapat massa, sebab jejaring ini bekerja secara horizontal tanpa ada yang merekayasa dan mengendalikan. Teknologi informasi telah membuat setiap individu menjadi powerful, dan menjadi unborderles civilization.

Kesadaran akan tantangan inilah sehingga para qiyadah menjawabnya dengan melakukan perubahan-perubahan strategis dalam organisasi dakwah kita. Akan tetapi, perubahan-perubahan itu tidak akan bermanfaat banyak jika organisasi dan kader kita di bawah tidak menyesuaikan diri dan melakukan perubahan-perubahan yang sama. Sebab pelaksana operasional dari hampir semua kebijakan-kebijakan strategis itu adalah struktur di bawah dan kader.

Oleh karena itu sangat urgen rasanya kita merencanakan rekayasa untuk mengubah mindset , kultur dan cara bekerja pengurus serta kader-kader dakwah. Sudah saatnya kita mendorong kultur baru dalam organisasi kita, kultur organisasi pembelajar. Dan tentu saja, salah satu jalannya adalah mendorong hadirnya kesadaran akan tantangan dakwah hari ini dan yang akan datang. Wallahu ‘Alam.


Selengkapnya…

Wednesday, March 23, 2011

UJIAN KEMATANGAN

Saudaraku,

Hari-hari ini rasanya menjadi waktu-waktu yang kurang mengenakkan bagi kita. Gelombang fitnah datang silih berganti menghantam gerakan kita. Secara serentak media massa (terutama media online) memojokkan para Qiyadah – yang kita cintai – dengan tuduhan-tuduhan yang sungguh keji. Sebuah gerakan charracter assassination (pembunuhan karakter) yang sangat rapih dan terencana. Hasilnya, sebagian masyarakat terprovokasi, terutama netizm (warga dunia maya).

Saudaraku,

Laa tahzan! Tuduhan-tuduhan keji itu memang menyakitkan bagi kita. Itulah tujuan mereka. Bahkan tak sekedar ingin menyakiti hati kita, tapi lebih dari itu, mereka ingin merusak barisan kita, menimbulkan keraguan dalam jiwa kita dan melihat kita meninggalkan harakah ini, seperti mereka...


Saudaraku,

Itulah sebabnya harakah ini dibangun diatas landasan ats-tsiqah! Kepercayaan! Sebab sejak fajar kebangkitan agama ini dimulai empat belas abad yang lalu oleh baginda Nabi, api fitnah telah menjadi salah satu rintangan yang menghiasi jalan-jalannya. Dan karena itu pulalah kita telah memperoleh banyak pelajaran dari sejarah panjang gerakan dakwah Nabi dan penerusnya, bahwa para pembawa api fitnah itu, juga adalah bagian dari diri mereka.

Bukan hanya itu, sejarah panjang gerakan dakwah Islam juga mencontohkan dengan indah bagaimana para pejuang dakwah menyelesaikan fitnah-fitnah itu dengan akhlak islami. Sepulang dariperang Tabuk, sekelompok kaum muslimin berniat mencelakakan baginda Nabi, lalu rencana mereka digagalkan oleh Allah. Sahabat Hudzaifah dan ‘Ammar (rahimahumullah) meminta izin kepada banginda Nabi untuk membunuh mereka. Tapi Beliau bersabda: Aku tidak ingin orang-orang berkata “Muhammad membunuh sahabatnya sendiri“.

Saudaraku,

Dibalik setiap peristiwa itu selalu ada hikmah. Setidaknya, beberapa pelajaran dari fitnah-fitnah ini menurut saya adalah...

Pertama, penegasan kembali sebuah sunnatullah bahwa jalan dakwah itu tidak pernah sepi dari gelombang ujian dan api fitnah. Sehingga kita para aktivis seharusnya senantiasa mempersiapkan jiwa kita untuk menghadapi gelombang ujian itu sebesar apa pun adanya. Ujian itu kadang hadir dengan wajah penderitaan, tekanan, penyiksaan bahkan pembunuhan. Namun terkadang pula ujian itu hadir dengan wajah kesenangan, harta dan jabatan. Sehingga kekokohan maknawiyah, kekuatan tsiqoh dan kekuatan ukhuwah akan melahirkan kesolidan barisan dakwah dan menjaga eksistensi harakah.

Kedua, mungkin inilah cara Allah SWT memisahkan anasir-anasir perusak dalam tubuh sebuah harakah. Seperti dalam peristiwa haditsul ifk, fitnah keji terhadap Ummul Mukminin yang mulia, Aisyah Ra, telah memisahkan anasir munafiqin dan anasir mukminin di lingkungan sahabat dan sahabiyah Nabi Saw. Begitu pula dengan fitnah Gamal Abdul Nasser terhadap ikhwan di Mesir, adalah cara Allah menunjukkan wajah Nasser yang sebenarnya di tengah lingkungan Al-Ikhwanul Muslimun.

Ketiga, fitnah-fitnah itu tentu saja menyadarkan kita, bahwa disaat kita bekerja untuk kemaslahatan bangsa ini, saat yang sama ada yang “bekerja” untuk kita. Mereka membelanjakan harta mereka dan sebagian besar sumber daya mereka “untuk” kita. Untuk mereka itu, cukuplah firman Allah SWT, “Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan” (QS Al-Anfal: 36).

Keempat, inilah ujian kematangan harakah dakwah dan para aktivisnya. Setiap organisasi yang berkembang akan menghadapi tantangan-tantangan baru dalam pertumbuhannya. Selain tantangan dari lingkungan strategis yang baru, juga oleh kompetitor yang lebih besar dari sebelumnya. Karena itu level persoalan yang hadir juga semakin tinggi dan rumit. Seperti kata pepatah, “makin tinggi pohon, makin kuat angin yang menerpa’. Dengan berbagai persoalan-persoalan ini, kita semua seharusnya berbesar jiwa, karena itu berarti harakah ini sedang mengalami pertumbuhan, dari M menjadi L.

Jadi, optimislah saudaraku! Jika kita mampu melalui semua persoalan-persoalan ini dengan baik, maka itulah pertanda kematangan kita dalam berharakah. Dan kita akan semakin dewasa...

Selengkapnya…

Tuesday, January 25, 2011

JANGAN CENGENG, AKHI...

TERHARU MEMBACA POSTINGAN SEORANG IKHWAN DI MILIS KAMPUS, JADI TERGERAK UNTUK MEMPOSTING BEBERAPA POTONG...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Dikasih amanah pura-pura batuk...

Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk...

Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk...

Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut...

Afwan ane ngurus ini ngurus itu jadinya suntuk...

Terus dakwah gimana? digebuk?



Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah...

Rencana awal cuma kirim Tausyiah...

Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah...

Terselip mikir rencana walimah?

Tapi nggak berani karena terlalu wah!

Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Abis nonton film palestina semangat membara...

Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana...

Semangat jadi penontonnya luar biasa...

Tapi nggak siap jadi pemainnya...
Yang diartikan sama dengan hidup sengsara...

Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Ngumpet-ngumpet buat pacaran...

Ketemuan di mall yang banyak taman...

Emang sih nggak pegangan tangan...

Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan...

Oh romantisnya, dunia pun heran...

Kalo ketemu Murabbi atau binaan...

Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan ?

Oh malunya sama Murabbi atau binaan ?

Sama Allah? Nggak kepikiran...

Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Disuruh infaq cengar-cengir...

Buat beli tabloid bola nggak pake mikir...

Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir...

Suruh tenang dan berdzikir...

Malah tangan yang ketar-ketir...

Leher saudaranya mau dipelintir !

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah...

Malah nyari Aminah...

Aminah dapet, terus Walimah...

Dakwah pun hilang di hutan antah berantah...

Dakwah yang dulu kemanakah ?

Dakwah kawin lari...
Lari sama Aminah..

Duh duh… Amanah Aminah..

Dakwah... dakwah...

Kalah sama Aminah...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Buka facebook liatin foto akhwat...

Dicari yang mengkilat...

Kalo udah dapet ya tinggal sikat...

Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat...

"Assalammu'alaykum Ukhti, salam ukhuwah... udah kuliah ? Suka coklat ?"

Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ...

Akhwatnya terpikat...

Mau juga ditraktir secara cepat...

Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…

Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat...

Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat...

Zina pun menjadi hal yang nikmat...

Udah pasti dapet laknat...

Duh.. maksiat.. maksiat…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Ilmu nggak seberapa hebat...

Udah ngata-ngatain Ustadz...

Baca qur'an aja masih perlu banyak ralat...

Tapi, kok udah berani nuduh ustadz...

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Status facebook tiap menit ganti...

Isinya tentang isi hati...

Buka-bukaan ngincer si wati...

Nunjukkin diri kalau lagi patah hati...

Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri...

Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati...

Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan...

Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan...

Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian...

Kepala cenat-cenut kebingungan...

Oh kasihan.. Mendingan cacingan...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman...

Makin bingung nyari teladan...

Teladannya bukan lagi idaman...

Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan...

Mau jadi putih nggak kuat nahan...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Diajakain dauroh alasannya segudang...

Semangat cuma pas diajak ke warung padang...

Atau maen game bola sampe begadang...

Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang...

Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang...

Duh.. berdendang...

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..

Tapi jarang banget yang namanya tilawah..

Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..

Hidup sekarang jadinya agak mewah..

Hidup mewah emang sah..

Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Dulunya di dakwah banyak amanah..

Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..

Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..

Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..

Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..

Anak baru dipandang dengan mata sebelah..

Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..

Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..

Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..

Nggak ada motor yaa mentoring boro-boro..

Pementor ikhlas dibikin melongo..

Oh noo…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…


Versi akhwat bisa dibaca di http://m2f-zone.blogspot.com/2010/12/akhwat-cengeng.html

Sanad : dari http://m2f-zone.blogspot.com/2010/12/ikhwan-cengeng-akhwat-manja.html dari ebook JIJC karya M. Maula Nurudin Al-Haq ( Soalnya beliau bilang belum ada penerbit yg mau menerima naskahnya )

Semoga bermanfaat...

Selengkapnya…

Saturday, October 23, 2010

MEMELIHARA JIWA PATRIOTISME

Wahai Saudaraku,

Ada yang menggelisahkan hati, ketika kita begitu ekspresif merespon aksi demonstrasi mahasiswa beberapa waktu yang lalu dengan sarkatis. Bagi sebagian kita mungkin itu ‘mengganggu’, atau pun ‘kampungan’, atau bahkan menyebut pendemo itu ‘otak udang’. Ada juga yang mengatakan sudah tidak relevan dan sejarah itu tidak akan berulang dua kali. Saya resah bukan karena saya pernah menjadi ‘pengganggu’ dan ‘orang kampungan’ itu. Juga tidak resah karena pernah memimpin sepuluh ribu ‘otak udang’ dijalanan. Saya resah, karena khawatir pada mindset (pikiran bawah sadar) yang melahirkan ekspresi-ekspresi sarkatis tersebut…

Wahai Saudaraku,

Dahulu ditanah Andalusia, jutaan kepala kaum muslimin dipenggal oleh tentara crusaders dari barat, justru ketika mereka mencapai era keemasan ilmu pengetahuan. Dan dahulu dikota Baghdad, 1 juta kaum muslimin dibantai selama 30 hari oleh pasukan Tar-Tar dari timur, juga pada masa ketinggian peradaban Islam. Bukan karena kaum muslimin jumlahnya sedikit. Bukan pula karena tidak ada laki-laki diantara mereka. Tetapi mereka melakukan kesalahan yang sama: menganggap remeh jihad dan mengabaikan patriotisme. Dan mereka berkata, “Jihad asykari tidak lagi relevan saat ini, tetapi yang lebih dibutuhkan jihad fikry”. Dan sejarah pun mencatat kejatuhan mereka…

Wahai Saudaraku,

Sesungguhnya jihad asykari itu tak akan pernah tergantikan posisinya dengan amalan apa pun. Harum keringat dan wangi darah para mujahid tidak dapat ditakar dengan tinta para penulis atau karya para ilmuwan. Dengan pedang-pedang mereka itulah sejarah diukir. Dan dari nyawa-nyawa mereka itulah peradaban dibentuk. Dan ketika kaum muslimin menukar jihad asykari dan semangat patriotisme itu dengan kegemilangan dunia, maka disaat itu pula sejarah mencatat laut mati menjadi hitam oleh tinta, dan merah oleh darah…

Wahai Saudaraku,

Jangan pernah katakan sejarah itu tidak berulang. Justru kita hidup ditengah pengulangan-pengulangan sejarah. Al-Qur’an yang suci menceritakan kisah tentang Fir’aun bukan hanya untuk menyampaikan kepada kita bahwa dahulu ada manusia dzalim bernama Fir’aun. Tetapi sebagai peringatan bahwa akan hadir Fir’aun-Fir’aun baru di setiap zaman yang kita lalui. Dan disaat itulah, kehidupan akan melahirkan musa-musa baru untuk menghancurkannya. Dan tidaklah Al-Qur’an menceritakan kisah-kisah peperangan Rasulullah Saw, melainkan sebuah pesan bahwa peperangan itu merupakan sunnatullah untuk menunaikan amanah sebagai khalifah dimuka bumi…

Wahai Saudaraku,

Bagi kita, demonstrasi itu adalah bagian dari ‘jihad asykari’ dalam iklim demokrasi. Dan diseluruh negara demokrasi didunia keberdaannya diakui dan kehadirannya selalu dibutuhkan. Ribuan warga Amerika berdemonstrasi melawan Obama atas penambahan pasukan Amerika di Iraq. Ribuan buruh Prancis berdemonstrasi menuntut Sarqozy membatalkan penambahan usia pensiun. Ribuan warga Jerman berdemonstrasi menolak kehadiran penjahat perang Tony Blair di negeranya. Tentu saja mereka, tidak kampungan, apalagi otak udang. Dan mereka bahkan jauh lebih maju dibandingkan kita…

Bukan berarti saya mencintai kekerasan. Bukan berarti pula saya menyukai peperangan. Tetapi memelihara agar didalam jiwa ini semangat patriotism itu senantiasa menyala. Agar suatu saat ketika tidak diminta-minta, takdir peradaban kita menghendaki kehadiran mujahidin untuk menjaga panji-panjinya, maka jiwa ini tidak lagi ringkih untuk menyambut seruannya. Sebab, betapa banyak diantara kita yang tersembunyi kepengecutannya dalam ketenangan mihwar dan keindahan retorika…

Wallahu ‘Alam…
Selengkapnya…

Saturday, January 24, 2009

JEBAKAN SUDUT PANDANG

Jutaan manusia yang hidup di muka bumi ketika memandang bulan senantiasa memaknai benda langit itu dengan keindahan. Dengan memandangnya saja ribuan puisi romantis tercipta. Ratusan pepatah indah terajut. Jutaan kisah cinta terangkai. Sebab rembulan yang begitu indah dengan sinarnya memiliki satu makna yang sama di muka bumi. Bulan itu simbol harapan dan kehidupan.

Tapi bagi para astronot yang telah menginjakkan kakinya disana, bulan itu tak seindah yang dibayangkan. Bulan itu tak seperti wajah seorang gadis cantik yang bercahaya, seperti ilustrasi para pujangga. Bulan itu gersang. Bulan itu tandus. Permukaannya kering dengan lembah dan gunung api dimana-mana. Dan sisi gelap bulan itu mengerikan. Manusia bisa membeku di dalamnya. Bagi para astronot, bulan itu ruang tanpa kehidupan. Lalu siapa yang harus disalahkan dengan persepsi yang berbeda secara diametris ini?

Mungkin tak ada yang perlu disalahkan. Sebab persepsi kita dibentuk oleh sudut pandang kita. Dan sudut pandang kita tentu saja sangat dipengaruhi oleh posisi kita memandang. Pemahaman seperti inilah yang aku bangun untuk bisa memahami pandangan banyak orang tentang PKS. Hanya saja perbedaanya, jika orang-orang di bumi memandang rembulan memiliki persepsi yang sama, maka orang-orang di luar PKS memandang PKS dengan persepsi yang berbeda-beda.

Dinamika yang terjadi di tubuh PKS, entah karena strategi, maneuver, atau kebijakan, senantiasa membentuk persepsi yang beragam bagi orang-orang di luar PKS. Tetapi bagi PKS sendiri, persepsi itu selalu sama. Iklan Soeharto misalnya, bagi Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia menganggap maneuver tersebut sebagai blunder PKS. Tetapi bagi Bima Arya Sugiarto, pengamat politik dari Universitas Paramadina, menganggap iklan tersebut sebagai langkah cerdas. Tentu saja bukan kapasitas kita untuk menilai siapakah diantara keduanya yang lebih cerdas, sebab memang bukan itu persoalannya. Sebagaimana tidak ahsan rasanya membandingkan kecerdasan Azwar Hasan yang menganggap maneuver ini sebagai pengkhianatan PKS, dengan kecerdasan Qasim Mathar yang mengacungkan jempol atas strategi pencitraan PKS tersebut.

Sementara para pengamat berdebat tentang iklan PKS ini. Disaat para akademisi adu ilmu tentang maneuver PKS ini. Internal PKS tetap tenang berselancar di atas ombak kontroversinya sambil mempersiapkan strategi brilian selanjutnya. Dan ketika riak kontroversi itu telah reda, semua orang baru tersadar jika PKS telah berada diseberang sana untuk menembakkan peluru selanjutnya. Dan anehnya, populritas dan elektabilitas PKS menurut survey internal yang lebih jujur menunjukkan trend pergerakan positif seiring munculnya kontroversi PKS tersebut. Seperti para astronot yang ada di bulan, disaat manusia di bumi hanya bisa memandang dengan kagum, mereka telah mengeksplorasi bulan dan mulai merekayasa kehidupan disana.

Oleh karena itu, wajar saja jika setiap orang merekayasa persepsinya sendiri terhadap realitas PKS yang dinamis. Sebagian orang menganggap penempatan Sekjen PKS, Anis Matta di Dapil Sulsel I DPR RI sebagai pengusiran beliau dari DKI. Tapi bagi sebagian yang lain memepersepsinya sebagai strategi ekspansi yang brilian sebagaimana DR. Hidayat dikembalikan ke Jawa Tengah, dan Pak Tif ke Sumatera Utara. Sebagian orang mempersepsi PKS telah terbagi 2 kubu, keadilan dan kesejahteraan, sementara sebagain yang lain mempersepsi PKS telah menjadi partai manusia yang sesungguhnya dan bukan partai malaikat. Bahwa di PKS kultur dinamika ide dan gagasan telah tumbuh menjadi kultur positif yang semakin menguatkan.

Tak satu pun yang patut ditertawai atas perdebatan dan kontroversi itu. Sebab mereka memang memandang PKS dari luar, seperti pandangan manusia di bumi yang mempersepsi rembulan. Tak ada yang salah. Dan karena itu para astronot harus berbesar jiwa pada perbedaan persepsi tentang bulan. Tugas besar mereka adalah bagaimana meyakinkan manusia di bumi tentang wajah bulan yang sesungguhnya. Begitu pun internal PKS, dibutuhkan kebesaran jiwa dan kesabaran untuk meyakinkan setiap orang di negeri ini bahwa PKS itu bersih, peduli dan professional. Biarlah mereka bicara, dan PKS terus bekerja.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At-Taubah: 105)

Selengkapnya…

Friday, January 23, 2009

DISKURSUS YANG BODOH

Aku tertawa. Menertawai diriku sendiri. Setelah membaca kembali diskursus yang tak ada habisnya tentang PKS. Berdebat sengit melalui tulisan dengan anak-anak muda yang –jujur- menurutku asset-aset ummat yang sedang menggeliat. Saling menghujat dan menyerang. Mencari-cari kesalahan dan kelemahan. Dan menghilangkan akhlak karimah serta persaudaraan. Memenuhi hati dengan kebencian. Memaksa pikiran untuk su’udzon. Melahirkan keakuan dan ego yang berlebihan. Astagfirullah…

Kadang aku berpikir, untuk apa mendebat Ust. Azwar Hasan dengan opininya. Toh, selama ini juga beliau telah memberikan kontribusi yang besar untuk ummat. Belum lagi bisa jadi bantahan itu dapat menohok beliau sebagai seorang guru dan tokoh. Padahal bisa jadi opini itu hanyalah sepenggal nasehat dalam bentuk yang berbeda.

Juga Fajurrahman Jurdi (FJ), anak muda yang terus berkarya. Mungkin benar kata Bang Yankur, jika ekspresi itu adalah cerminan jiwa yang begitu bersemangat. Dan kata-kata yang begitu keras, boleh jadi memang karakter beliau tanpa latar belakang niat yang buruk dibaliknya. Kira-kira semacam karakter bahasa berbagai suku di Indonesia yang sekilas terdengar kasar namun maknanya biasa saja. Wallahu alam…

Aku juga salut dengan sudut pandang segar dari Bang Yanuardi Syukur (Yankur). Sobat lamaku yang sangat cerdas. Dan sepertinya waktu telah membentuknya menjadi seorang pemikir yang luar biasa. Melalui responnya terhadap diskursus tanpa akhir ini, aku tahu jika Bang Yankur telah terbentuk menjadi manusia dewasa yang bijaksana.

Dan tak ku sangka-sangka, adikku yang sedikit gempal (heheheh…) Iqbal Sandira juga memberikan perhatian terhadap diskursus ini. Maka keluarlah tulisannya dengan gaya bahasa yang santun dan begitu menghargai. Sepertinya dia cocok untuk aku rekrut menjadi anggota perkumpulan PKH (Pemberontak Kucing Hitam). Haahhahahh…… Bersiap siagalah, Iqbal!!!

Aku rasa, mereka semua telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Terutama pelajaran tentang sikap (attitude). Sebab mereka telah menampilkan potret kehidupan manusia apa adanya. Ungkapan perasaan yang lebih jujur. Dan tak perlu ada yang disesali. Toh, setiap kritikan bagi orang-orang yang berjiwa besar justeru semakin menguatkan. Seperti derasnya angin yang menerpa pepohonan yang semakin tinggi malah akan menguatkan akar-akarnya untuk menghunjam lebih dalam ke bumi. Mungkin ada ranting yang patah. Mungkin ada daun yang gugur. Tapi sesungguhnya pohon itu sedang berbenah mempersiapkan diri menyambut badai besar yang akan datang selanjutnya.

Aku begitu yakin, jika Alah mentakdirkan harakah inilah yang memimpin ummat meraih supremasinya, maka dengan izin Allah pulalah jalan-jalan untuk meraihnya juga dibuka. Seperti ekspansi Israel ke Gaza di akhir tahun 2008 yang lalu, boleh jadi merupakan cara Allah membukakan jalan bagi HAMAS untuk mengokohkan gerakan da’wahnya. Maka boleh jadi pula, kehadiran mereka yang terlibat dengan diskursus ini merupakan cara Allah untuk mengokohkan dan membesarkan harakah ini. Seperti terpaan angin yang justeru menguatkan akar-akar pohon agar terus menjulang. Semoga…

Selengkapnya…

Friday, January 9, 2009

PKS AKAN MENGUKIR SEJARAH

Kehidupan sejarah manusia mirip permainan sepak bola. Dalam sepak bola selalu ada pemain, komentator dan penonton. Begitupun dalam sejarah manusia, selalu ada pelaku sejarah, ahli sejarah dan penyimak sejarah. Pelaku sejarah dapat diibaratkan para pemain sepak bola. Merekalah yang berjibaku di lapangan menciptakan gol atau kebobolan gol. Dikagumi dan tak jarang dicaci-maki. Merekalah yang menciptakan persitiwanya.

Lalu para komentator memberikan penilaian tentang peristiwa tersebut. Seperti ahli sejarah, para komentator itu biasanya merasa paling benar dalam memandang setiap peristiwa yang telah terjadi di lapangan. Dan seringkali mereka tak perlu merasa berdosa, jika ternyata komentar-komentar mereka jauh dari kebenaran. Apalagi jika tim yang dihujat oleh sang komentator ternyata berdiri sebagai pemenang di akhir pertandingan. Dan yang pasti, mereka tak pernah berkontribusi apa-apa dalam menciptkan persitiwanya.

Kemudian sekelompok besar manusia yang lain menjadi penonton. Mereka hanya bisa menjadi penikmat kreasi peristiwa yang diciptakan oleh para pemain. Mereka menciptakan euphoria, mengagumi dan juga menghujat. Tetapi suara-suara mereka tak pernah jelas dan selalu samar. Dan dalam kesamaran itulah mereka biasanya lebih jujur memaknai peristiwanya. Kehebatan pemain diapresiasi dengan pujian, dan blunder pemain dikritisi dengan sepantasnya. Tapi justeru apresiasi mereka inilah yang membesarkan atau mengecilkan sebuah tim sepak bola, dan bukan pendapat para komentator tadi. Merekalah para penyimak sejarah.

Namun selalu ada sekelompok penonton yang begitu fanatik dengan timnya. Kalah atau menang, fair atau melanggar, dukungan atas tim kebanggaannya akan terus mengalir sampai akhir hayat. Mereka inilah yang disebut supporter. Salah satu tugas mereka adalah melakukan “teror” kepada tim lawan selama pertandingan. Mereka melakukan psywar, menghujat, mencaci, bahkan sampai tindakan kriminal seperti melempar dan memukuli tim lawan.

Jika Pemilu 2009 diibaratkan kompetisi sepak bola, maka PKS adalah salah satu kontestannya. PKS adalah sebuah tim yang akan menciptakan peristiwanya. PKS adalah salah satu club (partai) dari ummat Islam yang akan memperebutkan gelar The Champion atas club-club yang lain dengan berbagai latar belakang ideologisnya. Selain membawa nama club (partai), PKS juga membawa nama besar dan kehormatan ummat dalam kontestansi raksasa ini. Dan karena itu tidaklah berlebihan jika PKS mentargetkan suara 20% pemilih pada Pemilu 2009 sebagai upaya menegakkan kehormatan partai-partai Islam di Indonesia.

Dan saat ini, peluit tanda dimulainya kompetisi sudah ditiup. Semua tim telah bersiap siaga dan mulai melakukan manuver-manuver canggih untuk mengalahkan lawan-lawanya. Berbagai peristiwa terjadi. Ada perebutan posisi Kapten seperti di PKB. Ada sekelompok pemain yang ngambek dan keluar dari club untuk membuat club baru seperti di PDIP. Ada juga tim yang sebagian strikernya diganjar kartu merah (karena korupsi) dan dimasukkan ke dalam buih seperti di Golkar dan PPP. Namun ada juga tim yang sangat solid seperti PKS.

Mencermati serangan-serangan Fajlurrahman Jurdi kepada PKS belakangan ini pada awalnya membuat penulis menduga jika dia hanyalah seorang komentator oportunis yang pandai berteori tapi tak pernah punya pengalaman hidup tentang apa yang dikomentarinya. Hanya seorang anak muda yang sedang ingin populer dan cari nama dengan cara-cara nista. Tapi dari tulisan keduanya di Tribun Opini ketika dia mengungkit kembali peristiwa Pilgub Sulsel yang lalu, penulis semakin yakin jika dia adalah seorang supporter fanatik dari club (partai) lain yang sedang melakukan “teror" kepada PKS. Mungkin juga sedang cari uang disana.

Tapi terlepas dari itu semua, PKS sebagai partai islam professional tentu saja perlu untuk menjelaskan kepada bangsa Indonesia tentang positioning-nya dalam sejarah bangsa ini. Agar orang-orang yang memiliki hati-hati busuk, lidah keji dan mulut-mulut yang kotor seperti Fajlurrahman Jurdi itu bungkam dan kecewa karena makar mereka terhadap PKS dengan pertolongan Allah akan selalu gagal. Dan kepada mereka itu bangsa ini perlu menyampaikan duka, sebab mereka hanya bisa bicara (membual) sementara PKS telah lama bekerja untuk bangsa.

Pada Pemilu 2004 yang lalu supporter anti PKS (seperti Fajlurrahman) juga tersebar dimana-mana. Bahkan seorang pimpinan lembaga survey terkenal dengan berani bersumpah bahwa PKS tidak akan mendapat apa-apa. Tapi PKS menjawabnya dengan kinerja, sebuah torehan sejarah. Dan setelah itu PKS menjadi fenomena. Ratusan akademisi dari dalam dan luar negeri meneliti PKS sebagai il phenomenon dalam sejarah perpolitikan Indonesia. PKS dibahas dalam seminar-seminar. PKS diangkat dalam buku-buku. PKS menjadi judul skripsi dan desertasi. Bahkan PKS merajai berita-berita politik di dunia maya (internet). PKS telah menciptkan sejarah baru di Indonesia.

Dan untuk Pemilu 2009, badai teror dari para supporter anti PKS tersebut tidak akan pernah reda, tapi semakin deras. Bahkan mereka didukung oleh kalangan akademisi opurtunis dan official media yang kuat sebagai corongnya. Tetapi PKS sekali lagi harus melewati badai teror ini dengan gagah. Sebab PKS hadir untuk mengukir sejarah. Sejarah tentang bagaimana sebuah partai Islam modern dapat tampil memimpin bangsa besar seperti Indonesia.

Sementara untuk tulisan kedua Fajlurrahman Jurdi di Tribun Opini tangal 7 Januari 2009, penulis hanya bisa tertawa sekaligus kasihan membacanya. Tertawa sebab tulisan itu semakin menunjukkan kerancuan berpikir sang Direktur. Berlagak seperti aktivis Islam lalu menjustifikasi teorinya dengan literatur barat. Parahnya lagi, sang Direktur seolah-olah tak pernah membaca sirah. Pelajaran yang di dalamnya sang Direktur dapat membaca dasar-dasar politik Islam dan musyarakah siyasiah yang dipertanyakannya. Penulis juga kasihan sebab sang Direktur terus menerus tenggelam memikirkan “iklan” PKS yang telah habis masa tayangnya. Tema basi yang terus menerus mengganggu tidurnya. Wacana yang bagi PKS telah selesai pembahasannya.

Akhirnya dalam hidup ini setiap kita harus memilih, apakah menjadi pelaku sejarah, ahli sejarah atau penyimak sejarah. Apakah menjadi pemain, komentator atau penonton saja. PKS telah menciptkan peristiwa, lalu menjadi rangkaian cerita, dan kelak akan membentuk sejarah Indonesia. Sehingga bangsa ini kelak akan mencantumkan nama PKS sebagai bagian tak terpisahkan dalam sejarahnya. Sebab sejarah hanya merekam kisah mereka yang menghabiskan hidupnya untuk bekerja, bukan tukang cerita. Wallahu ‘Alam.

Selengkapnya…

Thursday, January 8, 2009

PKS MENJAWAB KEDENGKIAN

Kedengkian yang begitu besar terhadap PKS sangat terasa pada diri seorang Fajlurrahman melalui dua tulisannya di kolom Tribun Opini yang pernah terbit. Penuturan yang sangat jorok dan tidak pantas mengalir begitu saja dalam tulisan tersebut, mencerminkan jiwa dan pikiran penulisnya yang kasar dan penuh kebencian. Entah sengaja atau tidak, Harian Tribun dengan tulus memuat seluruh kotoran jiwa dan pikiran si penulis untuk di konsumsi oleh masyarakat luas yang mungkin jauh lebih beradab. Dan mudah-mudahan Harian Tribun tidak sedang on mission untuk menjatuhkan citra PKS.

Sebenarnya tulisan itu tidak perlu ditanggapi, sebab hanya akan membuat penulisnya merasa besar kepala dan semakin angkuh. Sebab sepengetahuan saya, dia hanyalah seorang anak muda yang gagal dalam hubungan sosialnya. Pemuda angkuh yang sok pintar dan idealis, namun jiwanya mungkin sunyi. Sehingga satu-satunya pelarian terbaik baginya adalah menjadi terkenal dengan cara-cara nista.

Tapi tulisan ini bukan untuk menghakimi akhlak si pendengki yang mengaku sebagai aktivis islam itu (meski dari tulisannya tak satu pun yang menunjukkan perangai dan akhlak islami). Tulisan ini ingin menjawab kedengkiannya melalui sudut pandang yang terbatas dari seorang kader PKS yang telah terluka perasaannya oleh tulisan-tulisan si pendengki. Dan karena itu tulisan ini tidak mewakili organisasi PKS, yang terlalu mubazir untuk menjawab kedengkian basi seperti itu.

Menurut saya, setidaknya ada lima hal yang memprihatinkan dan patut dikasihani dari pikiran-pikiran si pendengki:

Pertama, tulisan itu mencerminkan besarnya kesombongan di dalam hati si pendengki. Sebab hanya orang-orang sombonglah yang berani memberikan vonis-vonis buruk terhadap orang lain sekena hatinya. Dan Fir’aun, adalah simbol kesombongan manusia yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Sungguh benar pesan Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang menuduh saudaranya sebagai kafir, bila yang dituduh tidak seperti yang dituduhkan, maka kekufuran akan kembali kepada si penuduh". Jika seluruh tuduhan si pendengki atas PKS tidak seperti yang dituduhkan, maka ketahuilah bahwa seluruh tuduhan itu telah melekat dalam diri si pendengki.

Kedua, akhlak penyampaian ide dalam tulisannya sangat jauh dari tuntunan Qur’an. Padahal dalam tulisannya, si pendengki seolah-olah sedang membela Islam. Jika semua aktivis da’wah Islam berperangai demikian, maka kemanakah makna firman Allah SWT dalam surah Thoha ayat 44 yang artinya: “Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mau ingat dan menjadi takut kepada Allah.”

Maka berkata khalifah Al-Ma’mun kepada seorang ulama yang selalu menghujatnya dengan kasar, “Tuan tidaklah lebih mulia dari Nabi Musa, dan saya tidaklah lebih buruk dari Fir’aun yang mengaku Tuhan. Karena itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur saya dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama? Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan saya tidak sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunyai Al-Quran lain yang tidak memuat ayat 44 surat Thaha itu?”

Ketiga, kerancuan logika si pendengki. Dalam tulisannya, si pendengki berusaha menjelaskan bagaimana khasanah politik Islam yang seharusnya, yaitu dengan mengkategorisasi partai politik menjadi dua, partai ideologis (kader) dan partai massa. Dengan menggunakan pendekatan Duverger si pendengki kemudian “mengharamkan” kemungkinan jalan tengah seperti PKS, yaitu partai kader yang memiliki basis massa. Sehingga dengan logika seperti ini, satu-satunya jalan bagi partai kader untuk berkuasa adalah dengan mengkaderkan lebih dari setengah jumlah warga negara yang ada. Sebuah logika berfikir yang entah dari mana relevansi faktualnya.

Kerancuan logika ini disebabkan oleh karena si pendengki mencoba menjelaskan khasanah politik Islam itu dengan menggunakan referensi dunia barat yang sekuler. Itulah sebabnya si pendengki tidak bisa memahami mengapa terjadi koalisi strategis (bukan ideologis) antara partai Islam dan nasionalis, sebab referensi sekuler barat memang tak pernah mengenal istilah itu. Tetapi dalam sirah nabawiyah dan sejarah Islam setelahnya, pelajaran tentang etika politik Islam (termasuk masalah koalisi strategis) itu terbentang luas di dalamnya. Hanya saja, mungkin si pendengki tak suka membacanya.

Keempat, miskinnya informasi kontemporer si pendengki. Hal ini menyebabkan si pendengki banyak keliru dalam membaca realitas hari ini. Harapan bahwa gabungan partai-partai Islam dapat mengalahkan partai-partai sekuler (seperti yang diimpikan pada Pilgub Sulsel tahun lalu) hanya angan-angan yang tidak memiliki pijakan. Tak satupun lembaga riset dan lembaga survey saat ini yang menempatkan kesamaan ideologi sebagai alasan utama pemilih dalam memilih partai. Semuanya menunjukkan hasil jika trend pemilih lebih melihat performance partai dan caleg ketimbang ideologinya. Faktor kemiskinan informasi inilah yang membuat si pendengki begitu kukuh mengimani teori Duverger.

Selain itu, klaim sepihak tentang tentang kebencian rakyat Indonesia kepada Soeharto juga menunjukkan kalau si pendengki adalah warga negara yang susah mengakses informasi. Padahal survey LaKSNu tahun 2007 melaporkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia memilih Soeharto sebagai Presiden terbaik yang pernah memimpin Indonesia. Kalau begitu, rakyat Indonesia mana yang sedang diwakili oleh si pendengki dalam menguatkan pendapatnya?

Kelima, karena si pendengki hanyalah seorang NATO sejati
(NATO= No Action Talk Only). Begitu indahnya dia berbicara tentang reformasi, tentang Indonesia, dan tentang Islam. Sayangnya, kita tak pernah tahu, di mana si pendengki ketika aktivis-aktivis PKS (yang belum berpartai) berada di garis terdepan menyabung nyawa menuntut reformasi? Dimana si pendengki ketika relawan-relawan PKS bergelut dengan jenazah saat tsunami meluluh lantakkan Aceh? Dimana si pendengki ketika tim kemanusiaan PKS mengulurkan tangan bagi korban gempa Jogja dan Manokwari? Dimana si pendengki ketika mujahid-mujahid PKS dikirim ke medan perang di Iraq, Afghanistan dan Palestina? Dimana si pendengki ketika kader-kader PKS berdiri dalam khusyuk shalat malamnya sambil bercucuran air mata, setelah seharian menyelesaikan tugas da’wahnya. Mudah-mudahan si pendengki tidak sedang tertidur pulas dalam kamar sempitnya, atau menghabiskan malam dalam keasyikan game komputernya.

Inilah jawaban kami, kader PKS, atas kedengkian yang begitu keji dari seorang anak muda gila popularitas namun dangkal pemikiran, saudara Fajlurrahman Jurdi. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk-Nya. Amin!

Selengkapnya…

Sunday, December 28, 2008

INDONESIA PERLU MIMPI

Oleh Yaumil Jannah, ST
Staf Kaderisasi PW Salimah Sulawesi Selatan

(Tanggapan Atas Tulisan Fajlurrahman Jurdi di Tribun Opini, Sabtu 27 Desember 2008)

Tahun 1899 di Amerika, dua orang anak muda yang sehari-harinya bekerja di bengkel sepeda memulai sebuah pekerjaan dari ide yang oleh tetangga dan masyarakat disekitarnya mereka sebut fantasi “orang gila”. Betapa tidak, yang ingin mereka buat adalah sebuah alat yang mampu membawa manusia terbang di angkasa seperti burung. Tapi sebutan “orang gila” dari hampir seluruh manusia di zamannya itu tidak menyurutkan cita-cita Wright bersaudara untuk menuntaskan “fantasi”nya. Pada bulan Desember 1903, sesudah kerja keras selama empat tahun lebih sedikit, hasil usahanya berhasil dengan gemilang. Lebih satu abad kemudian, yaitu hari ini, justeru mereka yang tidak percaya pada fantasi Wright bersaudara disebut “orang gila”.

Parade Orang Gila

Sebutan orang gila juga disematkan kepada Thomas Alfa Edison ketika menyampaikan “fantasinya” tentang bola pijar, juga kepada Alexander Graham Bell ketika mengajukan “fantasinya” tentang telepon. Bahkan di jaman yang mulai modern sekalipun seorang anak muda bernama Frederick W. Smith (pendiri FedEx) juga pernah disebut “orang gila” oleh kawan-kawannya dan diberikan nilai “C” oleh Profesornya di Universitas Yale ketika menulis paper mengenai ide pengiriman barang secara ekspress. Dan masih banyak nama-nama manusia yang telah mengukir sejarah, pernah disebut “orang gila”. Namun ketika seluruh fantasi mereka itu telah terangkum dan terakumulsi menjadi sebuah peradaban, orang tak pernah lagi mengingat bahwa mereka pernah digelari “orang gila”.

Membaca tulisan Fajlurrahman Jurdi pada kolom Tribun Opini hari Sabtu, 27 Desember 2008 sungguh menggelitik saya. Ada ironi besar antara jabatannya yang mentereng sebagai Direktur Eksekutif sebuah lembaga pusat kajian politik dan sosial dengan cara pandangnya tentang teori perubahan. Jika pelaku-pelaku perubahan dalam sejarah manusia adalah mereka yang kepalanya dipenuhi obsesi dan fantasi tentang masa depan, maka sang Direktur justru mengahkimi “fantasi” seseorang atau sebuah partai mau pun suatu bangsa sebagai kahayalan-khayalan yang menjijikkan. Mudah-mudahan bukan karena karena sang Direktur jarang membaca buku-buku biografi.

Maju Karena Mimpi

Amerika maju seperti sekarang ini bukanlah karena Amerika bangsa yang sangat cerdas. Lihat saja hasil Olimpiade Sains dewasa ini, pemenangnya sebagian besar bukanlah bangsa Amerika, tetapi orang-orang Eropa timur, China, bahkan belakangan juga Indonesia. Kemajuan mereka juga bukanlah semata-mata karena kedisiplinan kerja. Bangsa-bangsa Asia seperti Jepang, Korea dan China bahkan jauh lebih disiplin. Kunci kamajuannya adalah karena Amerika merupakan “mesin mimpi” terbesar di dunia. Di Amerika setiap orang bebas memiliki mimpinya sendiri. Bahkan setiap orang di dorong dan difasilitasi mewujudkan mimpinya oleh negara. Pemerintah menyiapkan dana besar-besaran bagi orang-orang “gila” melalui venture capital (VC). Jadi jangan heran jika banyak ide “gila” yang muncul di Amerika. Bahkan terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden Amerika Serikat saat ini juga salah satunya disebabkan oleh jualan mimpi Obama: “Hope” dan “Change”.

Oleh karena itu, serangan Fajlurrahman kepada PKS atas mimpinya tentang Indonesia lebih mirip ideologi komunis yang melarang seseorang, atau sebuah partai untuk memiliki obsesi dan cita-cita. Bahkan lebih “Soeharto” dari Soeharto itu sendiri yang telah beliau maki dalam tulisannya. Juga pilihan-pilihan kata yang digunakan dalam tulisan tersebut (entah sengaja atau tidak) seperti “menjijikkan”, “orang gila”, “kebusukan”, “tidak waras”, “keluar dari Islam”, menunjukkan “kekerasan intelektual” seorang cerdik pandai selevel beliau. Sehingga kesan yang muncul setelah membaca tulisan ini tentu saja hanya kesan amarah dan dendam, bukan kesan intelektual.

Indonesia Perlu Mimpi

Mestinya bangsa ini memberikan apresiasi terhadap gagasan-gagasan segar PKS. Di tengah kegamangan semua partai politik di negeri kita tentang Indonesia apa pasca orde reformasi, PKS menghadirkan sebuah “fantasi” yang telah dijabarkan dengan begitu lengkap dalam Platform Pembangunannya. Di saat tokoh-tokoh nasional bangsa ini saling sikut dan membual tentang janji-janji politik, justru PKS datang dengan semangat kebersamaan dan kerjasamanya. Pada saat sebagian intelektual muda mulai putus asa dengan tingginya tembok politik paternalistik yang ada, PKS datang dengan ide pemimpin mudanya. Bahkan di saat tak ada lagi ide baru tentang Indonesia, PKS hadir dengan slogan: “Bangkit Negeriku Harapan Itu Masih Ada”. Sebab Indonesia adalah bangsa yang membutuhkan sebuah mimpi.

Dan seharusnya tak perlu ada yang sakit hati dengan semua mimpi-mimpi PKS itu. Sebagaimana orang lain tak perlu sewot dengan obsesi dan mimpi kita masing-masing. Itu adalah hak PKS sebagaimana Golkar, PDIP atau PBB juga punya hak yang sama. Toh, mimpi PKS itu tidaklah menyakiti siapapun atau hendak mencederai siapapun. Apalagi jika kita sendiri bukanlah bagian dari orang yang harus berdarah-darah dan bergelimang air mata untuk membesarkan PKS, apa urusannya? Biarkanlah waktu yang akan berbicara nantinya, siapakah yang lebih pantas disebut “gila”, PKS ataukah para pengkritiknya.

Akhiri Polemik Ini

Meskipun PKS telah menjadi bahan skripsi dan desertasi doktoral banyak orang sejak berdirinya, namun itu belumlah cukup untuk menyimpulkan PKS sebagai partai hina atau mulia. Memperdebatkannya panjang lebar pun tidak akan mampu menambah kemuliaan atau kehinaan bagi PKS. Oleh karena itu jauh lebih bijaksana jika bangsa ini memberikan kesempatan kepada PKS untuk membuktikan ketulusan niatnya, kebenaran janji-janjinya, dan realisasi obsesinya. Sebagaimana bangsa ini juga telah memberikan kesempatan yang sama kepada Golkar, PDIP, PKB dan Partai Demokrat. Setelah itu, silahkan seluruh bangsa ini bebas menilai PKS.

Dan untuk sahabat Fajlurrahman, sederhanalah dalam mengkultuskan guru-guru kita. Azwar Hasan hanyalah manusia biasa yang bisa keliru seperti juga kita. Ide yang beliau tuangkan dalam Tribun Opini sebelumnya toh tak lebih hanyalah tambal sulam dari tulisan orang lain di website Tempo Interaktif tanggal 24 Nopember 2008. Mudah-mudahan ini tidak termasuk “plagiat” ide, sebuah kejahatan terbejat dalam dunia akademisi. Dan janganlah kebencian Anda terhadap suatu kaum, mendorong Anda untuk berlaku tidak adil (QS. 5:8). Jangan karena hanya sebuah iklan, sahabat Fajlurrahman tega menuding “gila”, munafik, bahkan murtad dari agama Allah, suadara-saudara seiman yang belum tentu lebih buruk dari diri Anda. Na’udzu billahi min dzalik!.

Selengkapnya…

Friday, December 26, 2008

5 CIRI DZAHIR KADER PKS

Jika Anda kader PKS, maka mulailah berkaca diri. Setidaknya magut-magut di depan cermin untuk memperhatikan secara seksama apakah ciri-ciri dzahir kader PKS sudah ada pada diri Anda. Setidaknya ada 5 ciri dzahir kader PKS yang disampaikan oleh Ust. Qodar Slamet dari BPK DPP yang kemarin sempat memberikan taujihnya di BAPELKES Makassar:

Ciri pertama, Simple (sederhana).
Artinya, kader PKS dalam menjelaskan pemikirannya (fikrah), ide dan gagasannya selalu sederhana. Tidak jelimet dan rumit. Menjelaskan Islam dengan sederhana. Tidak perlu menggunakan filsafat dan logika yang panjang, berbelit-belit, bertele-tele, namun kabur makna. Simple! Menjelsakan platform dan tahapan perjuangannya juga dengan simple. Memahami politik juga dengan simple. Tidak dikabur-kaburkan apalagi membohongi. Bahkan sesuatu yang rumit untuk dicerna, diolah sedemikian rupa sehingga ketika dibawa ke tengah masyarakat semuanya menjadi simple. Oleh karena itu kader PKS yang sesungguhnya mudah bergaul dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak pandang status sosial, pekerjaan, pendidikan, ideologi, apalagi agama. Simple!

Lawan simple adalah rumit. Sesuatu yang sederhana selalu dibuat rumit. Sesuatu yang mudah selalu dibuat sulit. Islam dipahami dengan begitu rumit, hingga orang putus asa untuk mampu memahaminya. Bahasanya tinggi, tak terjangkau oleh orang biasa-biasa saja. Politik di pahami dengan sangat rumit. Apalagi integrasi politik dan dakwah, menjadi maha rumit, sangking rumitnya tak bisa dijelaskan kepada orang biasa-biasa. Bahkan mungkin, saking rumitnya hingga memang tak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia. Na’udzu billah…

Ciri kedua, Ash-Shalah.
Artinya, kader PKS senantiasa memperhatikan shalat. Bukan hanya kewajiban menjalankan atau tidak, tetapi memperhatikan seluruh unsur keutamaannya. Oleh karena itu kader PKS adalah mereka yang menjaga shalat berjamaahnya di Masjid, bukan di luar Masjid. Hanya udzur syar’i (hujan atau sakit) yang betul-betul mampu menghalangi kemauan kader PKS untuk meluncur ke Majid saat adzan telah dikumandangkan. Dan indikator utamanya adalah shalat Subuh. Sebab shalat Subuh inilah indikator keimanan atau kemunafikan seorang muslim menurut Rasulullah Saw.

Ciri ketiga, At-Tilawah (Tilawatil Qur’an).
Artinya, kader PKS senantiasa bersama Al-Qur’an dalam setiap jengkal hidupnya. Selalu ada mushaf menemani langkahnya. Dan pada setiap waktu yang senggang, tak peduli dimanapun, kader PKS selalu tilawah. Al-Qur’an begitu dicintainya, hingga ia ada di sakunya, di HP-nya, di Laptopnya, di PC-nya, bahkan di blognya. Subhanallah!

Demi Al-Qur’an, kader PKS meninggalkan perbuatan sia-sia, seperti: Bercengkrama ngolor-ngidul nda’ ada temanya (apalagi ngomongin ikhwan atawa akhwat ter keren sa’ jagad raya), kongkow-kongkow di sekretariat sambil ketawa-ketiwi sampai ashma, mainin FIFA 2009 sampe jam 3 subuh (nah siapa itu ya?), atau nonton film-film terbaru tiga kali sehari (kayak minum obat saja). Semua itu ditinggalkan demi kekasih tercinta, Al-Quranul Kariim…

Ciri keempat, Al-Jundiyah (militan).
Ciri militansi adalah “kami dengar, kami laksanakan” (sami’na wa atha’na), itulah ciri kader PKS. Militansi pertama adalah militnasi pada perintah Allah, yaitu bersegera melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, baik yang di dengarkan dari Al-Qur’an maupun dari hadits-hadits Nabi. Tidak terbiasa menunda-nunda melakukan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab bagi kader PKS, hidup adalah hari ini, dan esok adalah sesuatu yang tidak pasti.

Militansi kedua adalah miltansi pada perintah qiyadah. Seberat apa pun atau sesepele apapun perintah itu. Entah itu perintah membuka medan da’wah baru di pulau antah berantah, atau hanya sekedar menjadi tukang sapu-sapu di markaz da’wah, semuanya dilaksanakan dalam ketaatan. Baik dalam lapang, maupun dalam sempit. Baik dikala senang, maupun dikala susah. Dalam keadaan apa pun, kader PKS senantiasa amanah dengan perintah yang telah diberikan padanya. Tak peduli qiyadahnya berusia sangat muda, yang pengalamnnya masih sebiji jagung, apalagi tergolong yunior dalam masa tarbiyah, jika dia adalah qiyadah, maka kader PKS siap melaksanakan amanahnya…

Ciri kelima, Al-Akhlaq.
Artinya salah satu cara mengenali kader PKS adalah pada akhlaknya. Mereka memiliki akhlak dan perangai yang unik, sopan, santun, murah senyum, rendah hati, suka menolong, berkata lembut, penyayang dan sebagainya. Kumpulan akhlakul karimah itu terpancar dari hati mereka yang bening oleh dzikir, pikiran mereka yang jernih oleh tarbiyah. Mereka tak rela melihat tetangga krelaparan. Merek tak tega melihat orang lain kesusahan. Mereka begitu hilm, dan air mata mereka mudah menetes oleh fenomena hidup yang beraneka warna.

Mereka begitu menghargai dan menghormati siapa saja, bahkan terhadap yang membencinya sekalipun. Dari mulut mereka senantiasa mengalir kata-kata yang menggugah, kalimat-kalimat penuh kasih sayang. Kader PKS anti kekerasan, sampai kapan pun. Tangan mereka begitu ringan untuk menolong siapa pun. Karena itu mereka mudah di temukan di setiap lokasi bencana. Mereka selalu berada di garis depan membantu mereka yang dirundung musibah. Dan mereka tidak suka hanya banyak bicara, mereka cinta pada kerja nyata.

Nah, bagi yang merasa kader PKS dan membaca tulisan ini. Marilah sejenak kita mengukur diri, sudahkah da’wah ini kita jiwai. Jika belum, masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Jangan sampai, da’wah yang begitu indah ini menjadi rusak hanya oleh karena tampilan zhahir kita tak pernah sejalan dengan pesan yang dakwah ini inginkan. Mari benahi diri Akhi, Ukhti, agar da’wah ini merambah ke dalam hati dan jiwa-jiwa ummat yang sedang mencari jati diri.

Dan tulisan ini, ku tulis untuk diriku sendiri, untuk jadi cemeti, agar hari-hari esok aku bisa lebih baik lagi, Amin…
Selengkapnya…

Sunday, December 21, 2008

MENGOMENTARI AKSI MAHASISWA

Beberapa hari belakangan ini demonstrasi mahasiswa kembali marak di sejumlah daerah. Bahkan di Makassar demonstrasi mahasiswa mendapatkan perlakuan represif dari aparat secara berlebihan. Di beberapa daerah lain pun demikian. Temanya satu, menolak UU BHP Perguruan Tinggi di Indonesia. Aturan baru (meskipun wacananya sudah sangat lama) yang dalam kaca mata mahasiswa akan mejadi tirani baru dalam dunia pendidikan di masa yang akan datang.

Sebagai mantan aktivis mahasiswa di era kepemimpinan Gus Dur dan Megawati, saya juga ingin memberikan penilaian atas aksi-aksi sporadis demonstrasi mahasiswa yang belakangan terjadi. Pertama secara pribadi saya sangat mengapresiasi gerakan-gerakan perlawanan kalangan kampus menanggapi pengesahan UU BHP tersebut. Teorinya tidak perlu panjang lebar, memang tugas mahasiswalah yang seharusnya menjadi institusi demokrasi yang kelima di negeri ini. Gerakan massa tersebut merupakan salah satu bentuk penunaian kewajiban mereka, disamping kewajiban belajar tentu saja. Sebab institusi parlemen yang diharapkan terlalu mengecewakan.

Saya berani mengatakan Anggota Dewan yang terhormat itu mengecewakan. Untuk hanya sekedar hadir dalam sidang-sidang paripurna yang sudah merupakan tugas utamanya saja sebagian mereka begitu malas, apalagi untuk mendengarkan suara hati rakyat yang mengakunya mereka wakili. Padahal, mahasiswa juga adalah rakyat. Yang menyakitkan adalah komentar-komentar mereka yang rada intelek dan ilmiah di televise bahwa sidang-sidang itu terlalu panjang dan membosankan. Pernyataan yang terlalu goblok menurut saya, sebab di tempat lain ketika mendengar pernyataan itu, tukang becak saja pandai berkata, “Lha ngapain Sampean masih jadi Anggota Dewan? Makan gaji buta aja…” Hehehe..lucu…

Salut buat sahabat-sahabat mahasiswa!!!

Tetapi satu hal yang membuat prestasi itu tercederai, yaitu pada pilihan strategi aksi yang harus merugikan rakyat. Salah apa rakyat sama kalian, kawan? Haruskan jalan mereka tertutup karena kesalahan pemerintah itu? Perlukah kendaraan mereka rusak oleh lemparan hanya karena amarah yang salah alamat? Tahukah Anda bahwa dari sekian banyak rakyat yang Anda tahan itu ada orang sakit yang segera butuh pertolongan? Tahukah Anda bahwa di antara antrian kemacetan itu ada ibu hamil yang mengerang kesakitan?

Menurut saya strategi aksi itu terlalu berlebihan. Kebenaran tak harus memakan korban untuk bisa diungkapkan. Apalagi jika mereka yang korban itu adalah rakyat, gelar yang kepadanya kita bersumpah setia untuk membela kepentingannya. Yang lebih menyedihkan adalah fakta bahwa mahasiswa harus berjuang sendirian. Niat mulia yang tercederai hanya karena pilihan metode yang salah alamat. Lalu rakyat marah… marah pada kita, bukan pada pemerintah…

Tapi jangan pernah berhenti kawan! Era kalian adalah masa pembelajaran. Langkah itu tak boleh berhenti hanya karena sedikit kesalahan. Toh bukan idealisme itu rusak, hanya persoalan teknis yang mengandung unsur ijtihad. Jangan pernah berhenti melawan tirani. Sebab berhenti adalah pengkhianatan terhadap janji. Janji pada kebenaran tentu saja…

Dan buat Polisi, entah kapan masanya mereka itu digantikan oleh manusia-manusia yang lebih mirip manusia ketimbang hewan. Sebab saya percaya, serusak apa pun suatu kaum, suatu komunitas, suatu institusi, pada akhirnya mereka akan mati dan digantikan oleh generasi yang lebih baik lagi. Semoga Tuhan mempercepat pergantian mereka itu hingga muncul sebuah generasi Polisi yang dapat meluruskan sejarah hitam dunia kepolisian…

Selengkapnya…

Friday, December 19, 2008

MISI POLITIK PKS 2009

Saya cukup kaget membaca tribun opini hari kamis 18 Desember 2008 kemarin. Ada dua hal yang membuat saya kaget pada kolom tersebut. Pertama adalah judulnya yang dalam kacamata saya sebagai orang awam ilmu komunikasi cenderung menghukum. Bahkan dalam sudut pandang politik judul ini dapat dikategorikan sebagai operasi politik tingkat tinggi berupa character assassination (pembunuhan karakter) mengingat momentum Pemilu tinggal menghitung hari. Dan tentu saja efek operasi ini (entah pesanan atau tidak) telah menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Kekagetan yang kedua adalah karena penulisnya, seorang tokoh intelektual yang sangat saya kagumi. Beliau adalah guru, ulama sekaligus pakar komunikasi yang tidak diragukan integritasnya. Namun disinilah yang membuat hati saya kurang nyaman jika melihat kembali kolom ini. Judul yang sangat menyerang sebagai pesan (message) bertemu dengan ketokohan penulis sebagai sumber (source), disadari atau tidak, telah menjadi propaganda efektif untuk membunuh PKS sebagai objek, setidaknya untuk tingkat Sulsel.

Terlepas dari penghormatan saya kepada penulis, melalui tulisan ini setidaknya saya sebagai masyarakat biasa yang peduli politik ingin menyampaikan pandangan atas opini Ust. Azwar Hasan tentang PKS. Dari berbagai manuver politik yang sudah dilakukan oleh PKS pada tingkat nasional, saya membaca bahwa PKS sedang menyampaikan pesan tentang misi PKS menjelang Pemilu 2009 kepada kita, bukan pada konteks Soehartonya, tapi pada narasi besarnya.

Pertama, misi PKS untuk mengakhiri politik aliran di Indonesia. Sejarah perpolitikan Indonesia sebelum dan sesudah Indonesia merdeka telah diwarnai oleh politik aliran, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Prof. Clifford Geertz asal Belanda sejak tahun 60-an. Menurut pandangan ini preferensi pemilih sangat ditentukan oleh dinamika religiusitas masyarakat dan muatan ideologis yang dibawa oleh partai politik. Jika merujuk pada teori ini dengan mendikotomi partai politik menjadi partai sekuler dan partai islam, maka kita menemukan fakta bahwa pemilih partai Islam pada setiap momentum Pemilu terus mengalami penurunan. Prestatasi tertinggi partai-partai Islam terjadi pada tahun 1955 dengan perolehan 40% lebih pemilih, kemudian terus menurun hingga pemilu 2004.

Pengamat politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit menilai, jika kita membandingkan Pemilu 1955 dengan Pemilu 1999 terlihat bahwa pemilih partai sekuler meningkat sebanyak 35,6 persen, sedangkan pemilih partai Islam menurun 7,51 persen. Sementara anggota legislatif (DPR) partai-partai sekuler bertambah sebanyak 32,64 persen, sementara anggota legislatif partai-partai Islam menurun sebanyak 9,95 persen. Artinya, trend elektabilitas partai-partai Islam yang ada saat ini jika masih menampilkan performance yang sama dengan Pemilu 1999 dan 2004 tidak akan melahirkan pertambahan pemilih yang signifikan, bahkan cenderung terus menurun. Bagi PKS, fenomena ini adalah sebuah ancaman bagi semua partai Islam.

Oleh karena itu partai-partai Islam sudah saatnya berpikir bagaimana melepaskan diri dari jebakan politik aliran tersebut. Jika tidak, Pemilu 2009 hanya akan menjadi ajang perebutan suara sesama partai Islam. Ceruk pemilih yang terlalu sedikit untuk merepresentasikan kepentingan ummat dalam pengeloaan negara. Sementara segmen pemilih diluar pemilih ideologis partai Islam sangat besar. Saya menilai, manuver politik yang telah dilakukan oleh PKS dengan menampakkan diri sebagai partai tengah, partai untuk siapa saja, adalah langkah maju yang luar biasa. Setidaknya PKS tidak lagi menjadikan ideologi Islam sebagai jualan satu-satunya untuk meraih simpati pemilih yang memang mayoritas lebih menilai performance partai ketimbang Ideologi.

Kedua, misi PKS untuk mengakhiri politik tokoh. Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan politik di Indonesia masih mengandalkan figur dan ketokohan sebagai jualan politik. Akibatnya kebesaran partai sangat bergantung pada kebesaran tokohnya, bukan pada ide, manajemen, maupun performancenya. Sebagai bukti nyata masih hidupnya politik tokoh adalah gonjang ganjing beberapa partai Islam yang merasa tokohnya dibajak oleh PKS melalui iklan Guru Bangsanya. Dalam iklan ini PKS memposisikan tokoh-tokoh pahlawan tersebut sebagai milik bangsa Indonesia, dan bukan miliki ormas atau partai tertentu.

Pada saat yang sama politik Indonesia lebih mengarah kepada pertarungan antara tokoh-tokoh bangsa yang potensial. Sesama tokoh saling menjatuhkan. Sesama tokoh saling mengklaim sebagai yang terbaik. Bahkan fanatisme yang berlebihan terhadap tokoh-tokoh tersebut membutakan mata mereka terhadap kehadiran ide-ide cerdas dan solutif dari tokoh-tokoh yang lain. Sebuah warisan politik yang selama ini menjadi jangkar bagi kemajuan Indonesia.

Oleh karena itu menurut saya maneuver PKS dengan memberikan award kepada 100 pemimpin muda Indonesia dan 8 inspiring woman tanpa memandang suku, agama, jenis kelamin , ideologi dan partai politiknya merupakan sebuah langkah maju yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memilki jiwa besar dan visi Indonesia yang jauh ke depan. Manuver ini telah menempatkan semua tokoh bangsa ini dari kalangan manapun sebagai sosok-sosok yang harus di apreasisasi, sekali lagi tanpa harus memandang perbedaan ideologi.

Dalam ungkapan yang indah Sekjen PKS, Anis Matta mengatakan, “Di PKS banyak orang hebat, tapi di partai lain juga banyak orang hebat. Di PKS banyak reformis, tapi di kelompok lain juga banyak reformis. Oleh karena itu kita mesti keluar dari kandang kita masing-masing, untuk bertemu pada suatu lapangan yang luas. Meneriakkan satu kata yang sama tentang masa depan Indonesia. Dan biarlah di lapangan besar itu, kita menggunakan baju kita masing-masing, dengan warna yang berbeda-beda, tapi dengan satu semangat yang sama. Karena hanya satu kata, Indonesia!”.

Ketiga, misi PKS untuk mengakhiri politik simbol. Manuver terakhir yang dilakukan oleh PKS adalah memunculkan warna kuning sebagai warna dominan pada berbagai atributnya. Manuver ini menuai kontroversi dari berbagai pihak dan dianggap sebagai upaya PKS untuk mendekat dengan partai Orde Baru, Golkar. Dalam kaca mata saya, maneuver ini adalah maneuver politik yang sangat cerdas untuk mulai menghilangkan politik simbol yang selama ini, sadar atau tidak, ikut mempengaruhi pilihan politik masyarakat.

Sebagian pemilih bahkan menentukan pilihannya beradasrkan simbol warna, kuning untuk Golkar, merah untuk PDIP, hijau untuk PPP dan PKB, biru untuk PAN, dan putih untuk PKS. Tidak masuk akal memang, tapi simbol-simbol itulah yang tertanam di alam bawah sadar sebagian pemilih. Oleh karena itu, menurut saya maneuver itu belum selelsai, setelah muncul dengan warna kuning, beberapa waktu yang akan datang PKS akan muncul dengan warna merah, hijau, biru juga putih, untuk meruntuhkan mitos politik simbol tersebut. Seolah-olah PKS ingin mengatakan, “Kuning itu PKS juga, merah itu PKS juga, hijau itu PKS juga, biru itu PKS juga dan putih itu PKS juga”.

Keempat, misi PKS untuk menuju The Next Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, secara jujur saya harus mengakui bahwa bangsa ini belum memiliki visi. Sesuatu yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Amerika besar karena visi. Jepang maju karena visi. India bangkit karena visi. China menjadi raksasa karena visi. Tapi, bangsa ini tak pernah memilki visi. Kita terus tenggelam dalam diskursus dan wacana kita tentang sejarah Indonesia. Waktu kita dihabiskan untuk mencari siapa yang salah pada setiap fase transisi negeri ini. Pemimpin-pemimpin kita terpilih untuk dihujat. Dan kitalah bangsa yang malas untuk memberikan apresiasi. Untuk hanya sekedar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo, bangsa ini begitu pelit hingga menunggu waktu puluhan tahun untuk memberikannya.

Sesungguhnya PKS telah memberikan keteladanan tentang perlunya bangsa ini memiliki visi. Dan syarat untuk melangkah menuju visi The Next Indonesia itu adalah kearifan memaknai sejarah. Apresiasi PKS terhadap Soeharto bukanlah karena uang, seperti yang tersirat di akhir tulisan Ust. Aswar Hasan. Tetapi sebuah ide tentang menyambungkan sejarah antar generasi, sebab peradaban besar adalah karya akumulatif antar genarasi. Bangsa kita ini tidak akan pernah berdiri hanya dengan darah satu orang, hanya dengan air mata satu orang, hanya dengan ide satu orang. Tetapi sebuah karya antar generasi anak bangsa.

Dan terakhir, menurut saya tulisan Ust. Azwar Hasan tersebut adalah apresiasi cinta beliau terhadap PKS. Beliau telah berusaha melakukan tabayyun (sebagai sesama muslim) kepada elit PKS, meskipun belum mendapatkan respon apa-apa. Kader PKS tidak perlu merasa terhakimi oleh judul opini Ust. Azwar Hasan ini yang dalam pandangan saya merupakan sosok bijaksana dan sangat memahami impilikasi yang muncul dari pilihan judul opini ini. Saya yakin, bahwa orang-orang besar hanya lahir dari gelombang kritikan yang juga besar.

Selengkapnya…

Tuesday, December 9, 2008

PEMILU 2009: TONGGAK KEBANGKITAN KAUM MUDA

Ada yang menggembirakan dari suasana menjelang Pemilu 2009, yaitu bermunculannya calon-calon legislator berusia muda yang tersebar pada hampir seluruh partai. Bahkan partai-partai yang sangat konservatif sekalipun seperti Golkar dan PDIP. Yang lebih menggembirakan lagi adalah fakta bahwa calon legislator muda ini dinominasikan pada hampir semua level lembaga legislatif, mulai tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi, hingga DPR RI.


Bukan hanya pada lembaga legislatif kaum muda ini bangkit, mereka juga mulai berani mengusung wacana pemerintahan kaum muda, pemimpin muda, Presiden muda. Sederet nama-nama tokoh muda dengan sangat percaya diri mengabarkan kepada rakyat Indonesia di seluruh pelosok negeri, bahwa mereka siap menahkodai bahtera negeri yang besar ini menggantikan orang-orang tua yang telah membawa Indonesia ke dalam pusaran krisis yang panjang.

Dan sepertinya gelombang kebangkitan kaum muda ini akan terus berlanjut. Perubahan-perubahan dramatis di berbagai negera seperti Amerika Serikat turut mempercepat proses kebangkitan tersebut. Terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden termuda Amerika sekaligus pemimpin Afro-amerika pertama dalam sejarah Negara adidaya tersebut telah menginspirasi bergesernya secara ekstrim situasi sosio-politik di berbagai negara.

Sebelumnya di berbagai Negara yang terkenal dengan percepatan-percepatan rekayasa sosialnya seperti Iran dan Negara-negara Amerika Latin seperti Venezuela, Brazil dan Peru juga telah mengalami pergeseran kepemimpinan yang begitu ekstrim dengan tampilnya pemimpin-pemimpin muda yang penuh idealisme. Dan sepertinya situasi seperti ini akan terus bergulir seperti bola salju. Terutama pada Negara-negara yang sedang bergolak dan dalam proses transisi seperti Thailand.

Untuk konteks Indonesia, fenoma kebangkitan kaum muda ini juga diperkuat dengan mulai masuknya anak-anak muda dalam jajaran elit partai-partai konservatif. Sesuatu yang selama ini sangat sulit untuk mereka tembus. Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Budiman Sujatmiko di tubuh PDIP dan Yudhi Krisnandi atau Indra J. Piliang di tubuh Golkar misalnya, sedikit banyaknya akan mendobrak barrier perpolitikan nasional yang selama ini dibangun oleh tokoh-tokoh tua. Dan fenomena ini hampir terjadi di semua partai. Anas Urbaningrum di Partai Demokrat, Drajad Wibowo di PAN, Lukman Hakim di PPP, Dita Indah Sari di PBR, bahkan yang paling fenomenal kesuksesan Muhaimin Iskandar mengambil alih PKB dari cengkraman tokoh tua konservatif Gus Dur.

Angin segar kebangkitan kaum muda juga secara berani ditampilkan oleh PKS, partai yang diisi oleh anak-anak muda seluruhnya. Manuver politik khas anak muda diracik sedemikian rupa hingga membuat gerah tokoh-tokoh uzur di hampir semua partai. Harapan perubahan disampaikan secara cerdas ke seluruh pelosok Indonesia. Semua media mengikuti setiap jengkal langkahnya. Para pengamat meneliti setiap sisi manuvernya. Seluruh partai membicarakan sepak terjangnya. Bahkan para Indonesianis barat angkat bicara tentang obsesinya. Fenomena yang jarang terjadi dalam pentas politik. Dan biasanya psikologi publik yang bombastis seperti ini hanya terjadi pada calon pemenang, seperti Obama di Amerika.

Meskipun fenomena kuat kebangkitan kaum muda ini telah terasa atmosfirnya, namun sebagian orang masih meragukannya. Pertama, mereka meragukan kapasitas anak-anak muda ini untuk mampu mendobrak kejumudan di partai yang mereka masuki, khususnya partai-partai raksasa. Untuk mereka yang berpandangan seperti ini perlu diingatkan kembali tentang sejarah panjang kebangkitan Indonesia, bahwa setiap zaman ada kaum mudanya, dan dalam setiap kebuntuan, kaum mudalah pendobraknya. Jangankan partai, wajah peradaban pun mampu mereka unbah.

Keraguan yang kedua adalah kenyataan bahwa sebagian politisi muda yang sedang diorbitkan oleh berbagai partai merupakan keturunan langsung tokoh-tokoh tua yang selama ini telah berkiprah. Ada semacam keraguan pada integritas mereka hanya karena hubungan darah. Tapi untuk mereka yang berpandangan seperti ini, kepadanya perlu disampaikan sebuah puisi indah dari Kahlil Gibran:

Your Children are not Your Children They are the sons and daughters of life's longing for itself. They come through you but not from you, And though they are with you yet they belong not to you. You may give them your love but not your thoughts, For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams. You may strive to be like them, but seek not to make them like you. For life goes not backward nor tarries with yesterday.

Kebangkitan kaum muda adalah keniscayaan. Sejarah telah mentakdirkan mereka untuk tampil sebagai pionir perubahan. Saat ini mereka sedang bekerja mengumpulkan kekuatan untuk melahirkan gelombang raksasa yang akan mendobrak kejumudan bangsa ini, dan membawa Indonesia keluar dari putaran krisis yang berkepanjangan ini. Hanya saja, mereka juga manusia. Tetap saja proses kebangkitan itu akan menghadapi banyak tantangan, terutama tantangan internal, yaitu ego. Mereka orang-orang muda, memiliki jiwa muda, semangat yang membara, tapi sekaligus ego dan keakuan yang tinggi. Dan jika mereka mampu melampaui ini, maka Indonesia baru sudah ada di depan mata. I hope so…

Selengkapnya…