Wednesday, March 23, 2011

UJIAN KEMATANGAN

Saudaraku,

Hari-hari ini rasanya menjadi waktu-waktu yang kurang mengenakkan bagi kita. Gelombang fitnah datang silih berganti menghantam gerakan kita. Secara serentak media massa (terutama media online) memojokkan para Qiyadah – yang kita cintai – dengan tuduhan-tuduhan yang sungguh keji. Sebuah gerakan charracter assassination (pembunuhan karakter) yang sangat rapih dan terencana. Hasilnya, sebagian masyarakat terprovokasi, terutama netizm (warga dunia maya).

Saudaraku,

Laa tahzan! Tuduhan-tuduhan keji itu memang menyakitkan bagi kita. Itulah tujuan mereka. Bahkan tak sekedar ingin menyakiti hati kita, tapi lebih dari itu, mereka ingin merusak barisan kita, menimbulkan keraguan dalam jiwa kita dan melihat kita meninggalkan harakah ini, seperti mereka...


Saudaraku,

Itulah sebabnya harakah ini dibangun diatas landasan ats-tsiqah! Kepercayaan! Sebab sejak fajar kebangkitan agama ini dimulai empat belas abad yang lalu oleh baginda Nabi, api fitnah telah menjadi salah satu rintangan yang menghiasi jalan-jalannya. Dan karena itu pulalah kita telah memperoleh banyak pelajaran dari sejarah panjang gerakan dakwah Nabi dan penerusnya, bahwa para pembawa api fitnah itu, juga adalah bagian dari diri mereka.

Bukan hanya itu, sejarah panjang gerakan dakwah Islam juga mencontohkan dengan indah bagaimana para pejuang dakwah menyelesaikan fitnah-fitnah itu dengan akhlak islami. Sepulang dariperang Tabuk, sekelompok kaum muslimin berniat mencelakakan baginda Nabi, lalu rencana mereka digagalkan oleh Allah. Sahabat Hudzaifah dan ‘Ammar (rahimahumullah) meminta izin kepada banginda Nabi untuk membunuh mereka. Tapi Beliau bersabda: Aku tidak ingin orang-orang berkata “Muhammad membunuh sahabatnya sendiri“.

Saudaraku,

Dibalik setiap peristiwa itu selalu ada hikmah. Setidaknya, beberapa pelajaran dari fitnah-fitnah ini menurut saya adalah...

Pertama, penegasan kembali sebuah sunnatullah bahwa jalan dakwah itu tidak pernah sepi dari gelombang ujian dan api fitnah. Sehingga kita para aktivis seharusnya senantiasa mempersiapkan jiwa kita untuk menghadapi gelombang ujian itu sebesar apa pun adanya. Ujian itu kadang hadir dengan wajah penderitaan, tekanan, penyiksaan bahkan pembunuhan. Namun terkadang pula ujian itu hadir dengan wajah kesenangan, harta dan jabatan. Sehingga kekokohan maknawiyah, kekuatan tsiqoh dan kekuatan ukhuwah akan melahirkan kesolidan barisan dakwah dan menjaga eksistensi harakah.

Kedua, mungkin inilah cara Allah SWT memisahkan anasir-anasir perusak dalam tubuh sebuah harakah. Seperti dalam peristiwa haditsul ifk, fitnah keji terhadap Ummul Mukminin yang mulia, Aisyah Ra, telah memisahkan anasir munafiqin dan anasir mukminin di lingkungan sahabat dan sahabiyah Nabi Saw. Begitu pula dengan fitnah Gamal Abdul Nasser terhadap ikhwan di Mesir, adalah cara Allah menunjukkan wajah Nasser yang sebenarnya di tengah lingkungan Al-Ikhwanul Muslimun.

Ketiga, fitnah-fitnah itu tentu saja menyadarkan kita, bahwa disaat kita bekerja untuk kemaslahatan bangsa ini, saat yang sama ada yang “bekerja” untuk kita. Mereka membelanjakan harta mereka dan sebagian besar sumber daya mereka “untuk” kita. Untuk mereka itu, cukuplah firman Allah SWT, “Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan” (QS Al-Anfal: 36).

Keempat, inilah ujian kematangan harakah dakwah dan para aktivisnya. Setiap organisasi yang berkembang akan menghadapi tantangan-tantangan baru dalam pertumbuhannya. Selain tantangan dari lingkungan strategis yang baru, juga oleh kompetitor yang lebih besar dari sebelumnya. Karena itu level persoalan yang hadir juga semakin tinggi dan rumit. Seperti kata pepatah, “makin tinggi pohon, makin kuat angin yang menerpa’. Dengan berbagai persoalan-persoalan ini, kita semua seharusnya berbesar jiwa, karena itu berarti harakah ini sedang mengalami pertumbuhan, dari M menjadi L.

Jadi, optimislah saudaraku! Jika kita mampu melalui semua persoalan-persoalan ini dengan baik, maka itulah pertanda kematangan kita dalam berharakah. Dan kita akan semakin dewasa...

Selengkapnya…

Tuesday, January 25, 2011

JANGAN CENGENG, AKHI...

TERHARU MEMBACA POSTINGAN SEORANG IKHWAN DI MILIS KAMPUS, JADI TERGERAK UNTUK MEMPOSTING BEBERAPA POTONG...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Dikasih amanah pura-pura batuk...

Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk...

Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk...

Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut...

Afwan ane ngurus ini ngurus itu jadinya suntuk...

Terus dakwah gimana? digebuk?



Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah...

Rencana awal cuma kirim Tausyiah...

Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah...

Terselip mikir rencana walimah?

Tapi nggak berani karena terlalu wah!

Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Abis nonton film palestina semangat membara...

Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana...

Semangat jadi penontonnya luar biasa...

Tapi nggak siap jadi pemainnya...
Yang diartikan sama dengan hidup sengsara...

Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Ngumpet-ngumpet buat pacaran...

Ketemuan di mall yang banyak taman...

Emang sih nggak pegangan tangan...

Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan...

Oh romantisnya, dunia pun heran...

Kalo ketemu Murabbi atau binaan...

Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan ?

Oh malunya sama Murabbi atau binaan ?

Sama Allah? Nggak kepikiran...

Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Disuruh infaq cengar-cengir...

Buat beli tabloid bola nggak pake mikir...

Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir...

Suruh tenang dan berdzikir...

Malah tangan yang ketar-ketir...

Leher saudaranya mau dipelintir !

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah...

Malah nyari Aminah...

Aminah dapet, terus Walimah...

Dakwah pun hilang di hutan antah berantah...

Dakwah yang dulu kemanakah ?

Dakwah kawin lari...
Lari sama Aminah..

Duh duh… Amanah Aminah..

Dakwah... dakwah...

Kalah sama Aminah...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Buka facebook liatin foto akhwat...

Dicari yang mengkilat...

Kalo udah dapet ya tinggal sikat...

Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat...

"Assalammu'alaykum Ukhti, salam ukhuwah... udah kuliah ? Suka coklat ?"

Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ...

Akhwatnya terpikat...

Mau juga ditraktir secara cepat...

Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…

Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat...

Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat...

Zina pun menjadi hal yang nikmat...

Udah pasti dapet laknat...

Duh.. maksiat.. maksiat…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Ilmu nggak seberapa hebat...

Udah ngata-ngatain Ustadz...

Baca qur'an aja masih perlu banyak ralat...

Tapi, kok udah berani nuduh ustadz...

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Status facebook tiap menit ganti...

Isinya tentang isi hati...

Buka-bukaan ngincer si wati...

Nunjukkin diri kalau lagi patah hati...

Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri...

Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati...

Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan...

Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan...

Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian...

Kepala cenat-cenut kebingungan...

Oh kasihan.. Mendingan cacingan...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman...

Makin bingung nyari teladan...

Teladannya bukan lagi idaman...

Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan...

Mau jadi putih nggak kuat nahan...

Jadi Ikhwan jangan cengeng...

Diajakain dauroh alasannya segudang...

Semangat cuma pas diajak ke warung padang...

Atau maen game bola sampe begadang...

Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang...

Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang...

Duh.. berdendang...

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..

Tapi jarang banget yang namanya tilawah..

Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..

Hidup sekarang jadinya agak mewah..

Hidup mewah emang sah..

Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Dulunya di dakwah banyak amanah..

Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..

Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..

Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..

Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..

Anak baru dipandang dengan mata sebelah..

Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..

Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..

Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..

Nggak ada motor yaa mentoring boro-boro..

Pementor ikhlas dibikin melongo..

Oh noo…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…


Versi akhwat bisa dibaca di http://m2f-zone.blogspot.com/2010/12/akhwat-cengeng.html

Sanad : dari http://m2f-zone.blogspot.com/2010/12/ikhwan-cengeng-akhwat-manja.html dari ebook JIJC karya M. Maula Nurudin Al-Haq ( Soalnya beliau bilang belum ada penerbit yg mau menerima naskahnya )

Semoga bermanfaat...

Selengkapnya…

Saturday, October 23, 2010

MEMELIHARA JIWA PATRIOTISME

Wahai Saudaraku,

Ada yang menggelisahkan hati, ketika kita begitu ekspresif merespon aksi demonstrasi mahasiswa beberapa waktu yang lalu dengan sarkatis. Bagi sebagian kita mungkin itu ‘mengganggu’, atau pun ‘kampungan’, atau bahkan menyebut pendemo itu ‘otak udang’. Ada juga yang mengatakan sudah tidak relevan dan sejarah itu tidak akan berulang dua kali. Saya resah bukan karena saya pernah menjadi ‘pengganggu’ dan ‘orang kampungan’ itu. Juga tidak resah karena pernah memimpin sepuluh ribu ‘otak udang’ dijalanan. Saya resah, karena khawatir pada mindset (pikiran bawah sadar) yang melahirkan ekspresi-ekspresi sarkatis tersebut…

Wahai Saudaraku,

Dahulu ditanah Andalusia, jutaan kepala kaum muslimin dipenggal oleh tentara crusaders dari barat, justru ketika mereka mencapai era keemasan ilmu pengetahuan. Dan dahulu dikota Baghdad, 1 juta kaum muslimin dibantai selama 30 hari oleh pasukan Tar-Tar dari timur, juga pada masa ketinggian peradaban Islam. Bukan karena kaum muslimin jumlahnya sedikit. Bukan pula karena tidak ada laki-laki diantara mereka. Tetapi mereka melakukan kesalahan yang sama: menganggap remeh jihad dan mengabaikan patriotisme. Dan mereka berkata, “Jihad asykari tidak lagi relevan saat ini, tetapi yang lebih dibutuhkan jihad fikry”. Dan sejarah pun mencatat kejatuhan mereka…

Wahai Saudaraku,

Sesungguhnya jihad asykari itu tak akan pernah tergantikan posisinya dengan amalan apa pun. Harum keringat dan wangi darah para mujahid tidak dapat ditakar dengan tinta para penulis atau karya para ilmuwan. Dengan pedang-pedang mereka itulah sejarah diukir. Dan dari nyawa-nyawa mereka itulah peradaban dibentuk. Dan ketika kaum muslimin menukar jihad asykari dan semangat patriotisme itu dengan kegemilangan dunia, maka disaat itu pula sejarah mencatat laut mati menjadi hitam oleh tinta, dan merah oleh darah…

Wahai Saudaraku,

Jangan pernah katakan sejarah itu tidak berulang. Justru kita hidup ditengah pengulangan-pengulangan sejarah. Al-Qur’an yang suci menceritakan kisah tentang Fir’aun bukan hanya untuk menyampaikan kepada kita bahwa dahulu ada manusia dzalim bernama Fir’aun. Tetapi sebagai peringatan bahwa akan hadir Fir’aun-Fir’aun baru di setiap zaman yang kita lalui. Dan disaat itulah, kehidupan akan melahirkan musa-musa baru untuk menghancurkannya. Dan tidaklah Al-Qur’an menceritakan kisah-kisah peperangan Rasulullah Saw, melainkan sebuah pesan bahwa peperangan itu merupakan sunnatullah untuk menunaikan amanah sebagai khalifah dimuka bumi…

Wahai Saudaraku,

Bagi kita, demonstrasi itu adalah bagian dari ‘jihad asykari’ dalam iklim demokrasi. Dan diseluruh negara demokrasi didunia keberdaannya diakui dan kehadirannya selalu dibutuhkan. Ribuan warga Amerika berdemonstrasi melawan Obama atas penambahan pasukan Amerika di Iraq. Ribuan buruh Prancis berdemonstrasi menuntut Sarqozy membatalkan penambahan usia pensiun. Ribuan warga Jerman berdemonstrasi menolak kehadiran penjahat perang Tony Blair di negeranya. Tentu saja mereka, tidak kampungan, apalagi otak udang. Dan mereka bahkan jauh lebih maju dibandingkan kita…

Bukan berarti saya mencintai kekerasan. Bukan berarti pula saya menyukai peperangan. Tetapi memelihara agar didalam jiwa ini semangat patriotism itu senantiasa menyala. Agar suatu saat ketika tidak diminta-minta, takdir peradaban kita menghendaki kehadiran mujahidin untuk menjaga panji-panjinya, maka jiwa ini tidak lagi ringkih untuk menyambut seruannya. Sebab, betapa banyak diantara kita yang tersembunyi kepengecutannya dalam ketenangan mihwar dan keindahan retorika…

Wallahu ‘Alam…
Selengkapnya…

Saturday, January 24, 2009

JEBAKAN SUDUT PANDANG

Jutaan manusia yang hidup di muka bumi ketika memandang bulan senantiasa memaknai benda langit itu dengan keindahan. Dengan memandangnya saja ribuan puisi romantis tercipta. Ratusan pepatah indah terajut. Jutaan kisah cinta terangkai. Sebab rembulan yang begitu indah dengan sinarnya memiliki satu makna yang sama di muka bumi. Bulan itu simbol harapan dan kehidupan.

Tapi bagi para astronot yang telah menginjakkan kakinya disana, bulan itu tak seindah yang dibayangkan. Bulan itu tak seperti wajah seorang gadis cantik yang bercahaya, seperti ilustrasi para pujangga. Bulan itu gersang. Bulan itu tandus. Permukaannya kering dengan lembah dan gunung api dimana-mana. Dan sisi gelap bulan itu mengerikan. Manusia bisa membeku di dalamnya. Bagi para astronot, bulan itu ruang tanpa kehidupan. Lalu siapa yang harus disalahkan dengan persepsi yang berbeda secara diametris ini?

Mungkin tak ada yang perlu disalahkan. Sebab persepsi kita dibentuk oleh sudut pandang kita. Dan sudut pandang kita tentu saja sangat dipengaruhi oleh posisi kita memandang. Pemahaman seperti inilah yang aku bangun untuk bisa memahami pandangan banyak orang tentang PKS. Hanya saja perbedaanya, jika orang-orang di bumi memandang rembulan memiliki persepsi yang sama, maka orang-orang di luar PKS memandang PKS dengan persepsi yang berbeda-beda.

Dinamika yang terjadi di tubuh PKS, entah karena strategi, maneuver, atau kebijakan, senantiasa membentuk persepsi yang beragam bagi orang-orang di luar PKS. Tetapi bagi PKS sendiri, persepsi itu selalu sama. Iklan Soeharto misalnya, bagi Ray Rangkuti, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia menganggap maneuver tersebut sebagai blunder PKS. Tetapi bagi Bima Arya Sugiarto, pengamat politik dari Universitas Paramadina, menganggap iklan tersebut sebagai langkah cerdas. Tentu saja bukan kapasitas kita untuk menilai siapakah diantara keduanya yang lebih cerdas, sebab memang bukan itu persoalannya. Sebagaimana tidak ahsan rasanya membandingkan kecerdasan Azwar Hasan yang menganggap maneuver ini sebagai pengkhianatan PKS, dengan kecerdasan Qasim Mathar yang mengacungkan jempol atas strategi pencitraan PKS tersebut.

Sementara para pengamat berdebat tentang iklan PKS ini. Disaat para akademisi adu ilmu tentang maneuver PKS ini. Internal PKS tetap tenang berselancar di atas ombak kontroversinya sambil mempersiapkan strategi brilian selanjutnya. Dan ketika riak kontroversi itu telah reda, semua orang baru tersadar jika PKS telah berada diseberang sana untuk menembakkan peluru selanjutnya. Dan anehnya, populritas dan elektabilitas PKS menurut survey internal yang lebih jujur menunjukkan trend pergerakan positif seiring munculnya kontroversi PKS tersebut. Seperti para astronot yang ada di bulan, disaat manusia di bumi hanya bisa memandang dengan kagum, mereka telah mengeksplorasi bulan dan mulai merekayasa kehidupan disana.

Oleh karena itu, wajar saja jika setiap orang merekayasa persepsinya sendiri terhadap realitas PKS yang dinamis. Sebagian orang menganggap penempatan Sekjen PKS, Anis Matta di Dapil Sulsel I DPR RI sebagai pengusiran beliau dari DKI. Tapi bagi sebagian yang lain memepersepsinya sebagai strategi ekspansi yang brilian sebagaimana DR. Hidayat dikembalikan ke Jawa Tengah, dan Pak Tif ke Sumatera Utara. Sebagian orang mempersepsi PKS telah terbagi 2 kubu, keadilan dan kesejahteraan, sementara sebagain yang lain mempersepsi PKS telah menjadi partai manusia yang sesungguhnya dan bukan partai malaikat. Bahwa di PKS kultur dinamika ide dan gagasan telah tumbuh menjadi kultur positif yang semakin menguatkan.

Tak satu pun yang patut ditertawai atas perdebatan dan kontroversi itu. Sebab mereka memang memandang PKS dari luar, seperti pandangan manusia di bumi yang mempersepsi rembulan. Tak ada yang salah. Dan karena itu para astronot harus berbesar jiwa pada perbedaan persepsi tentang bulan. Tugas besar mereka adalah bagaimana meyakinkan manusia di bumi tentang wajah bulan yang sesungguhnya. Begitu pun internal PKS, dibutuhkan kebesaran jiwa dan kesabaran untuk meyakinkan setiap orang di negeri ini bahwa PKS itu bersih, peduli dan professional. Biarlah mereka bicara, dan PKS terus bekerja.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At-Taubah: 105)

Selengkapnya…

Friday, January 23, 2009

DISKURSUS YANG BODOH

Aku tertawa. Menertawai diriku sendiri. Setelah membaca kembali diskursus yang tak ada habisnya tentang PKS. Berdebat sengit melalui tulisan dengan anak-anak muda yang –jujur- menurutku asset-aset ummat yang sedang menggeliat. Saling menghujat dan menyerang. Mencari-cari kesalahan dan kelemahan. Dan menghilangkan akhlak karimah serta persaudaraan. Memenuhi hati dengan kebencian. Memaksa pikiran untuk su’udzon. Melahirkan keakuan dan ego yang berlebihan. Astagfirullah…

Kadang aku berpikir, untuk apa mendebat Ust. Azwar Hasan dengan opininya. Toh, selama ini juga beliau telah memberikan kontribusi yang besar untuk ummat. Belum lagi bisa jadi bantahan itu dapat menohok beliau sebagai seorang guru dan tokoh. Padahal bisa jadi opini itu hanyalah sepenggal nasehat dalam bentuk yang berbeda.

Juga Fajurrahman Jurdi (FJ), anak muda yang terus berkarya. Mungkin benar kata Bang Yankur, jika ekspresi itu adalah cerminan jiwa yang begitu bersemangat. Dan kata-kata yang begitu keras, boleh jadi memang karakter beliau tanpa latar belakang niat yang buruk dibaliknya. Kira-kira semacam karakter bahasa berbagai suku di Indonesia yang sekilas terdengar kasar namun maknanya biasa saja. Wallahu alam…

Aku juga salut dengan sudut pandang segar dari Bang Yanuardi Syukur (Yankur). Sobat lamaku yang sangat cerdas. Dan sepertinya waktu telah membentuknya menjadi seorang pemikir yang luar biasa. Melalui responnya terhadap diskursus tanpa akhir ini, aku tahu jika Bang Yankur telah terbentuk menjadi manusia dewasa yang bijaksana.

Dan tak ku sangka-sangka, adikku yang sedikit gempal (heheheh…) Iqbal Sandira juga memberikan perhatian terhadap diskursus ini. Maka keluarlah tulisannya dengan gaya bahasa yang santun dan begitu menghargai. Sepertinya dia cocok untuk aku rekrut menjadi anggota perkumpulan PKH (Pemberontak Kucing Hitam). Haahhahahh…… Bersiap siagalah, Iqbal!!!

Aku rasa, mereka semua telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Terutama pelajaran tentang sikap (attitude). Sebab mereka telah menampilkan potret kehidupan manusia apa adanya. Ungkapan perasaan yang lebih jujur. Dan tak perlu ada yang disesali. Toh, setiap kritikan bagi orang-orang yang berjiwa besar justeru semakin menguatkan. Seperti derasnya angin yang menerpa pepohonan yang semakin tinggi malah akan menguatkan akar-akarnya untuk menghunjam lebih dalam ke bumi. Mungkin ada ranting yang patah. Mungkin ada daun yang gugur. Tapi sesungguhnya pohon itu sedang berbenah mempersiapkan diri menyambut badai besar yang akan datang selanjutnya.

Aku begitu yakin, jika Alah mentakdirkan harakah inilah yang memimpin ummat meraih supremasinya, maka dengan izin Allah pulalah jalan-jalan untuk meraihnya juga dibuka. Seperti ekspansi Israel ke Gaza di akhir tahun 2008 yang lalu, boleh jadi merupakan cara Allah membukakan jalan bagi HAMAS untuk mengokohkan gerakan da’wahnya. Maka boleh jadi pula, kehadiran mereka yang terlibat dengan diskursus ini merupakan cara Allah untuk mengokohkan dan membesarkan harakah ini. Seperti terpaan angin yang justeru menguatkan akar-akar pohon agar terus menjulang. Semoga…

Selengkapnya…